Kue Gosong Dibalik Meriahnya Lebaran

DIBALIK cantiknya kue kering yang tersaji saat Lebaran, ada cerita yang juga tak kalah menarik untuk disimak dari si pembuat kue.

Bayangkan saja, pembuat kue rumahan yang telah beroperasi selama 10 tahun di Puri Potorono Asri, Jalan Wonosari KM 8 C7, harus membuat 10-15 toples sehari dengan tenaga dua orang saja.

Kepada KRjogja.com, Riana Septianty, sang pemilik bisnis kue kering rumahan tersebut menceritakan bagaimana serunya memroduksi kue-kue kering menjelang Lebaran dengan keterbatasan.

"Kami pernah mengalami kue yang dipanggang jadi gosong karena kebablasan tidur," ungkap Riana saat ditemui di kediamannya. Ketiduran saat menunggu proses memanggang itu pernah terjadi pada kue kloter terakhir, setelah ia dan ibunya, Endang Sriyati, merasa lelah membuat adonan kue-kue kering pesanan pembeli seharian.

"Sebenarnya, kue-kue tersebut tidak gosong hingga berwarna hitam, namun hanya menjadi lebih gelap dari biasanya," tambahnya.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013 UPN "Veteran" Yogyakarta itu merasa kue seperti itu sebaiknya tidak ikut dijual karena takut memengaruhi persepsi pembeli tentang cita rasa. Baginya, indikator kue itu enak atau tidak juga bisa dilihat dari warna, selain bentuk dan komposisi resep yang sama. Dengan begitu, mereka harus mengulangi proses membuat hingga memanggang adonannya.

Riana menambahkan kue-kue yang gosong itu memang termasuk kerugian, namun daripada rasa berubah dan mendapat komplain dari para pembeli, lebih baik mengulang lagi.

"Kue yang gosong kami makan sendiri," katanya yang telah menggeluti bisnis pembuatan kue kering rumahan selama 10 tahun bersama sang ibu.

Seiring berjalannya waktu, Riana dan Endang melakukan perbaikan di berbagai sisi, terutama perihal manajemen waktu.

"Biasanya kami menawarkan kue-kue kering satu minggu sebelum bulan Ramadan tiba, sehingga tidak terburu-buru," ujar Riana. Mereka menawarkan ke teman, rekan dan tetangga terdekat. Setelah ada pesanan, baru dibuatkan. Meskipun begitu, mereka juga menerima pesanan dadakan dengan syarat harga menjadi lebih tinggi beberapa ribu.

"Bagi yang pesan dadakan selisih dua ribu dengan harga biasa," tukas Riana. Akan tetapi, ia akan menolak jika dirinya dan ibunya tidak sanggup untuk mengerjakan pesanan atau sudah mendekati hari H mudik.

"Kami mengutamakan kepuasan konsumen, jangan kalah sama industri besar," tuturnya.

Per stoples kecil kue kering yang diproduksi Rani dan Endang dibandrol dengan harga 18-23 ribu, sedangkan untuk stoples besar mencapai 35-47 ribu. Mereka juga mampu membuat 7 varian kue di setiap pemesanan.

"Harga fluktuatif, tergantung harga bahan juga," tutup Riana sembari memasang selotip untuk kue lidah kucing yang baru keluar dari panggangan. (Ardhike Indah)

 

BERITA REKOMENDASI