Lahan Pertanian Hilang, 35 KK di Sungapan Butuh Bantuan

BANTUL (KRJogja.com) – Musibah banjir di Bantul beberapa waktu hingga kini masih menyisakan persoalan serius ditengah masyarakat. Salah satunya terkait hilangnya lahan pertanian milik masyarakat Sungapan Sriharjo Imogiri Bantul. Ironisnya lagi, lahan itu selama ini jadi penyangga kebutuhan pangan masyarakat. Kini warga berharap kepada pemerintah memberikan solusi terbaik bagaimana caranya menjaga lahan tersisa agar tidak ikut lenyap.                      

Kepala Dusun Sungapan Desa Sriharjo Imogiri Bantul, Warsono Teko didampingi Ketua RT 04 Gimin,  Selasa (26/12) mengatakan, terdapat 35 Kepala Keluarga (KK) di Sungapan kehilangan mata pencaharian setelah banjir melanda. Hal itu terjadi karena 35 bidang tanah pertanian hilang digerus banjir. Padahal lahan tersebut sebelumnya produktif untuk budidaya tanaman padi dan palawija. Bahkan sekarang warga masih dihinggapi persoalan baru yakni, terancamnya lahan disekitarnya.

Warsono Teko mengatakan, imbas dari peristiwa itu warga khawatir lahan disekitarnya ikut longsor. Karena hilangnya tanah itu terjadi di hamparan lahan pertanian. "Tanah yang hilang itu posisinya ditengah- tengah area pertanian dengan kedalaman hingga tiga meter lebih dengan panjang mencapai 100 meter lebih ke arah timur," ujar Warsono Teko.  

Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo SE menyesalkan pemerintah yang belum sekalipun datang ke Dusun Sungapan Sriharjo Imigiri. Padahal kampung tersebut mengalami kerusakan sangat parah dan dampaknya jauh ke delapan. "Kampung Sungapan mengalami kerusakan sangat parah, khusunya lahan pertanian, kondisi ini membutuhkan campur tangan pemerintah untuk menyelesaikannya," ujar Hanung. 

Kepala Seksi Pengelolaan Jaringan Irigasi Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum(DPU) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Bantul, Yitno ST MT mengatakan,  terkait dengan kerusakan lahan dan jaringan irigasi pihaknya  akan segera koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul. “Kami akan segera koordinasi dengan Pak Dwi (Kepala BPBD-red) terkait dengan penanganan tanah pertanian yang hilang itu. Karena dengan kedalaman mencapai tiga meter dengan panjang lebih dari seratus meter, butuh dana sangat besar,” ujar Yitno. (Roy)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI