Lonjakan Harga Sapi Sulit Dihindari

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Hari Raya Idul Adha menimbulkan beragam persoalan. Mulai melejitnya harga sapi dan kambing, hingga potensi kurangnya hewan kurban. Sementara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul terus bergerak untuk melindungi hewan ternak dari serangan brutal wabah PMK.

Pengusaha sapi warga Depok Wonolelo Pleret Bantul Yuli Nuryanto, Senin (06/06/2022) mengatakan, sekarang ini harga sapi terus melesat naik akibat keterbatasan barang. Dampak penutupan pasar hewan tersebut akhirnya pembeli pada lari ke petani langsung.

“Sekarang konsumen larinya ke petani langsung. Sapi saya dari harga kisaran Rp 17- 18 juta sekarang bisa mencapai Rp 21 juta. Bahkan sapi dengan bobot 1 ton bisa tembus Rp 70 juta,” ujarnya.

Semenatara Ahmad Suwardi, pedagang sapi warga Padokan Lor Tirtonirmolo Kasihan Bantul mengatakan harga sapi memang ada kenaikan tetapi boleh dibilang dalam taraf wajar. “Sebagai gambaran saja misalnya harga sapi dalam kondisi normal itu Rp 20 juta sekarang di angka kisaran Rp 21 juta. Tetapi untuk harga dibawah 20 juta sebenarnya juga masih ada,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo SPt MSi mengatakan berdasar hasil pendataan dari beberapa pasar hewan di Bantul, harga sapi yang awalnya kisaran Rp 18 jutakini bahkan sudah menyentuh harga Rp 21 juta sampai Rp 22 juta/ekor.

Joko mengungkapkan lonjakan harga memang tidak bisa dihindari lagi ketika permintaan pasar akan sapi dan kambing tidak bisa dibendung lagi. Menurutnya permintaan sapi dan kambing di Kabupaten Bantul untuk kebutuhan harian pun sebenarnya sudah sangat tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan para jagal ataupun kuliner sate.

“Sebagai ilustrasi khusus kambing dan domba, ketika harga normalnya rata-rata Rp 3 juta. Sekarang bisa mencapai Rp 3,5 – Rp 4 juta per ekornya,” ujarnya.

Langkah konkret mengantisipasi meluasnya wabah PMK di Bantul. DKPP untuk saat ini pihaknya tengah membatasi hewan dari luar daerah. Kebijakan tersebut respons temuan kasus suspek PMK pada 272 hewan ternak di Bantul.

“Sesuai arahan Bupati, tidak ada penutupan pasar hewan. Dalam mencegah penularan PMK, pihaknya fokus pencegahan seperti disinfektan serta pengobatan ternak yang sudah sakit,” ujarnya.

Joko mengatakan meski diselimuti wabah PMK namun stok sapi di Bantul mampu mencukupi kebutuhan kurban, dengan catatan ternak tidak dijual keluar daerah. (Roy)

BERITA REKOMENDASI