Luas Lahan Pertanian di Bantul Tak Bertambah

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Dari evaluasi yang dilakukan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul, produksi padi pada tahun 2018 cenderung stagnan atau hampir sama dengan 2017. Hal ini akibat luasan lahan pertanian yang tidak bertambah dan faktor cuaca yang sebelumnya kemarau panjang.

Kepala DPPKP Kabupaten Bantul Ir Pulung Haryadi MSi, kepada wartawan, Selasa (15/1), menuturkan untuk pertanian padi, Kabupaten Bantul memiliki luas lahan kurang lebih 15.000 hektare tersebar di 75 desa. Sepanjang musim tanam 2018 menghasilkan sekitar 188.000 ton gabah kering giling.

"Untuk hitungan menjadi beras, dari produksi padi dikalikan 62 persen. Dibanding dengan produksi pada 2017 hampir sama alias stagnan. Tidak ada kenaikan yang signifikan," ujarnya.

Ditambahkan Pulung, faktor penyebab produksi padi stagnan di antaranya luas lahan yang stagnan pula alias tidak bertambah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "Tahun 2018 kemarin kemarau panjang disusul hujan sempat mundur satu bulan. Maka untuk produktivitas padi tidak bisa mengejar, jadi ajeg sehingga yang paling mungkin menggenjot produktivitas tanaman pangan dengan mengoptimalkan menanam jagung dan kedelai," paparnya.

Adapun tahun 2017 dan 2018, produktivitas gabah kering di angka 6,7 ton tiap hektarenya. Pada tahun 2019, DPPKP Bantul menargetkan produktivitas bisa naik di atas tujuh ton perhektare. Adapun upaya peningkatan produktivitas padi dilakukan dengan penggunaan bibit unggul dan teknologi pertanian.

Terkait luasan lahan kedelai dan jagung, Pulung menyebut luasan lahan kedelai dalam satu tahun seluas 2.000 hektare tersebar di beberapa kecamatan. "Terkait tanaman hortikultura, produktivitasnya diprediksi ada kenaikan mencapai satu persen. Namun untuk tanaman pisang malah turun produktivitasnya," jelasnya.

Ditambahkan Pulung, untuk tanam bawang merah, cabai dan beberapa komoditas tertentu, produktivitas naik karena luasan lahan bertambah. Untuk tanaman cabai merah pada petani harganya menembus angka Rp 25.000 perkilogram, bawang merah lebih dari Rp 20.000 perkilogram.

Untuk bawang merah produksi mencapai 7.910 ton dan cabai merah produksi mencapai 1.497 ton. "Kalau harga di tingkat petani bagus biasa yang teriak konsumen karena harga komoditas jadi naik. Kalau harga turun yang senang konsumen karena murah tapi petani menangis," tambahnya lagi. (Aje)

BERITA REKOMENDASI