Mangungkap Filosofi Budaya ‘Ngliwet’

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRjogja.com) – Budaya 'ngliwet' atau menanak nasi bagi masyarakat Jawa sudah ada sejak zaman leluhur. Kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat Jawa tidak sekadar mulainya sebuah proses untuk menghasilkan nasi dari beras yang direbus kemudian dimakan. Dibalik budaya itu terdapat banyak filosofi tentang kehidupan ini.

 

Namun seiring majunya perdaban manusia 'ngliwet' berlahan mulai ditinggalkan. Persoalan muncul ketika genarasi Negara ini sudah ‘asing’ dengan 'ngliwet' itu.  Banyak pihakpun yakin tidak semua anak-anak tahun dan paham soal yang satu itu. Dengan latar belakang itulah di Museum Tani Jawa Candran Kebonagung Imogiri Bantul menggelar festival 'ngliwet' dengan peserta ibu-ibu di wilayah itu.

Pengelola Museum Tani Jawa Candran,  Kristya Bintara, Kamis (1/9)  mengungkapkan, festival ngliwet tersebut sebagai salah satu upaya mengkomunikasikan tradisi dengan generasi sekarang. "Program ini sebagai sarana mengkomunikasikan tradisi ngliwet  dengan generasi muda sekarang ini, jangan sampai tidak tahu," ujarnnya.

Dijelaskan, tradisi ngliwet punya nilai filosifis mendalam bagi masyarakat. Budaya itu mengajarkan kesabaran dan prinsip kehati hatian. Tanpa dilandasi prisip kesabaran, seseorang tidak akan mendapatkan hasil terbaik dari ngliwet itu. "Kami ingin tunjukkan kepada anak-anak, bahwa tradisi ngliwet ini bagian dari kehidupan masyarakat Jawa," ujarnya.

Kegiatan hasil kerjasama Museum Tani Jawa, Museum Benteng Vredeburg dan Desa Candran ini menggelar festival memedi sawah dan pameran foto Soeharto.. Pengunjung juga bisa menyaksikan beragam alat pertanian di Jawa dari masa ke masa. Acara sendiri digelar hingga tanggal 5 September 2016 mendatang. (Roy)

 

BERITA REKOMENDASI