Masih Ada Rumah Makan Besar Gunakan Gas Bersubsidi

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Untuk mengatasi kelangkaan gas bersubsidi 3 kg (gas melon) di Bantul, PT Pertamina berencana menggelontorkan kuota fakultatif sebesar 10 persen atau 80 ribu tabung pada bulan Agustus ini. Sementara berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh tim gabungan Dinas Perdagangan (Dindag), Satpol PP, Pertamina dan agen elpiji di Bantul, masih ditemukan  rumah makan besar menggunakan gas melon. Padahal sesuai ketentuan gas melon diperuntukkan bagi warga kurang mampu dan pelaku ekonomi lemah.

Koordinator Agen Elpiji Area Bantul, Ronny Hendro kepada wartawan disela Sidak dibeberapa rumah makan, Rabu (08/08/2019) menuturkan kelangkaan gas melon yang terjadi beberapa waktu lalu dipicu beberapa hal seperti banyaknya hajatan, meningkatnya keluarga kecil serta menjelang Idul Adha. Kondisi ini memicu panic bullying pada masyarakat. "Maka dari Pertamina akan memberikan kuota fakultatif sebesar 10 persen menghadapi hari raya kurban," jelasnya.

Ditambahkan Ronny pihaknya ikut mendampingi pelaksanaan sidak yang dilakukan oleh Dindag sebagai upaya penerapan penggunaan elpiji yang tepat sasaran. "Rumah makan besar tidak berhak menggunakan gas melon. Mereka seharusnya memakai bright gas (5kg) atau bahkan gas 12 kg," jelasnya lagi.

Kepala Seksi (Kasi) Distribusi dan Harga Barang Kebutuhan Pokok Dindag Bantul,  Yuhriyatun Nur Handayani  mengakui masih adanya pelanggaran penggunaan barang bersubsidi di rumah makan besar dan pelaku usaha menengah ke atas. Ditambahkannya dari Dinas sudah ada Surat Edaran bahwa penggunaan gas melon hanya untuk masyarakat miskin dan pengusaha lemah.

Sementara restoran, warung makan besar, peternak ayam dan usaha laundry tidak diperbolehkan memakai gas melon.
Berdasarkan pantauan di empat lokasi, ada dua rumah makan yakni rumah makan ikan bakar di kawasan Ringinharjo dan Rumah Makan Padang di kawasan Jalan Bantul yang masih menggunakan gas melon.

"Untuk rumah makan kawasan Ringinharjo memakai gas 12 kg dan gas melon. Namun Rumah Makan Padang di kawasan Jalan Bantul hampir seluruh aktivitas memasak menggunakan gas melon. Total gas melon yang digunakan sekitar 17 tabung. Jika tiap hari habis 17 tabung gas melon bisa dibayangkan dalam sebulan habis berapa tabung, padahal peruntukkannya untuk warga miskin," urainya.

Dalam pemantauannya dua rumah makan sebelumnya yang menggunakan gas melon sudah saat ini sudah beralih menggunakan bright gas dan gas 12 kg. Adapun sanksi awal rumah makan yang menggunakan gas melon mendapatkan teguran dan diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak menggunakan gas bersubsidi lagi. Selain itu disediakan juga bright gas yang langsung dapat ditukar dengan gas melon dua tabung secara gratis.

"Sanksi berupa teguran dan evaluasi serta pengawasan secara intensif. Namun untuk sanksi lain belum diatur dalam Peraturan Daerah (Perda)," tambahnya lagi.

Adapun secara total Kabupaten Bantul mendapatkan kuota gas melon selama satu tahun sebanyak 9,3 juta tabung gas melon. Sementara tiap bulannya Bantul mendapatkan kuota sekitar 800 ribu tabung. Ditanya peningkatan konsumsi gas melon selama Idul Adha diprediksikan mencapai 5 persen. (Aje)

BERITA REKOMENDASI