Masker Batik Kian Dilirik

Editor: Ivan Aditya

BAGI pelaku usaha di masa pandemi Covid-19 ini harus banyak inovasi atau terobosan baru agar usahanya tidak bangkrut atau gulung tikar, hingga tetap eksis sebagai penyangga ekonomi keluarga. Jika produksinya monoton, bukan tidak mungkin hanya terus berproduksi tetapi tidak ada pembeli.

Adalah Yanie Haryo warga Perumahan Pringgading Permai Blok E no 4, Kembangputihan Guwosari Pajangan Bantul yang meyakini akan gal itu. Semula usaha di bidang batik dan kebaya, sejak tahun 2014. Sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) selama masa pandemi Covid-19 omzet usahanya mengalami penurunan tajam.

Sebelum wabah korona merebak, pendapatan per hari mampu meraup Rp 5 juta, namun begitu masa pandemi merosot tajam hanya sekitar Rp 1 juta. “Itu saja hasil pemasukan masker batik yang kami produksi selama Covid-19, sebagai salah satu terobosan usaha,” ujar Yanie Haryo pemilik Jannah Batik dan Kebaya didampingi Krisamyono Mukti Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Sleman.

Meski berada di Bantul, namun Yanie Haryo sejak lama aktif menjadi anggota HIPPI Sleman hingga sekarang. Menurut Yanie Haryo, dirinya mulai memproduksi masker batik sejak awal Covid-19, dimana banyak orang kesulitan mencari masker, kalaupun ada harganya sudah melambung tinggi.

Modal awal pembuatan masker batik dari stok kain batik printing yang dimiliki, semula untuk bahan kebaya dan baju. Kemudian pesan kepada teman pengusaha kain batik dengan harga Rp 25.000/lembar, tahap awal menghabiskan dana Rp 2 juta untuk pembuatan masker motif batik.

Awalnya, ia membuat masker dua lapis bolak-balik dengan motif berbeda, yang laku dijual per pack isi 10 Rp 30.000 ke reseller. “Ternyata masker batik produksi saya laku keras di pasaran, dari hotel-hotel, karyawan kantor dan masyarakat umum karena harga lebih murah dibanding dengan masker buatan lain,” ujarnya lagi.

Tidak itu saja, ternyata masker batik produksinya juga bisa dijadikan suvenir pernikahan, dimana pemesanan paling tidak 300 biji. Di luar target pemasaran, karena si pengantin puas maka jadilah gethok tular, sebagai ajang promosi hingga Wonosobo dan kota-kota Jateng lainnya. Tak ketinggalan pula, sebuah kantor dinas di Jakarta pun ikut pesan 1.000 biji untuk dibagikan.

Seiring dengan berjalannya waktu pemerintah menganjurkan pembuatan masker standar SNI, Yanie Haryo pun melaksanakan dengan produksi masker batik tiga lapis yang dijual ke reseller Rp 5.000/biji, dan ternyata prospek masker batik masih tinggi dan merupakan pilihan dari semua lapisan masyarakat. Hal ini karena merupakan masker kain yang bisa dicuci dengan harga ekonomi, bisa dipakai berulang-ulang dan tidak menambah sampah.

Kini omzet rata-rata per bulan dari masker batik sekitar Rp 2.000.000 bersih, sedangkan ongkos produksi per biji Rp 2.500 ditambah ongkos jahit Rp 500, sehingga bisa dijual dengan murah namun tetap berkualitas. Dalam pengerjaannya, Yanie Haryo dibantu beberapa tenaga kerja lepas di antaranya kaum difabel (tuna rungu), mulai bekerja dari pukul 08.00 – 16.00 WIB.

“Hingga kini masker batik semakin dilirik, karena aman, nyaman dan murah namun berkualitas. Inovasi di masa pandemi, disamping memberikan lapangan kerja kaum difabel,” tambah Yanie Haryo yang juga membuat produksi batik dan kebaya. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI