Mengenal Pusat Batik Tulis Giriloyo

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Berdasarkan sejarah, dipekirakan batik tulis Giriloyo Wukirsari Imogiri Bantul mulai dirintis sejak 400 tahun silam. Hitungan tersebut mengacu pada berdirinya Makam Raja Kraton Yogyakarta di Pajimatan Imogiri.

Pada masa itu kerajinan batik tulis awalnya dipesan dari kalangan keluarga Kraton Yogyakarta. Waktu itu, para abdi dhalem yang mayoritas orang Giriloyo kemudian minta istrinya untuk mencanting atau membuat batik agar bisa memenuhi permintaan keluarga kraton.

Baca juga :

KMS 2020 Didistribusikan, Pemkot Pastikan Genjot Program Pemberdayaan
Realisasi Pembangunan 2019 Dinilai Lebih Baik

Seiring berjalannya waktu, di Giriloyo tidak sekadar jadi pusatnya batik tulis terbesar di Bantul dengan perajin mencapai 400 orang. Tetapi di kawasan itu juga berkembang sejumlah inovasi terkait dengan batik. Mulai program belajar membatik hingga magang membatik.

"Batik mulai dirintis oleh pendahulu warga Giriloyo 400 tahun lalu. Waktu itu banyak dari warga di wilayah ini menjadi abdi dhalem di Makam Raja Yogyakarta di Imogiri.  Kemudian  istri dari abdi dhalem diminta untuk mencanting atau membuat batik untuk  keluarga kraton. Sejak itu warga Giriloyo memprodiksi batik hingga sekarang ini," ujar  Pengawas Paguyuban Batik Giriloyo, Agus Basuki kepada KRJOGJA.com, Rabu (15/01/2020).

Meski usia batik tulis sudah ratusan tahun, tetapi tonggak perkembangan batik tulis Giriloyo terjadi paska bencana gempa bumi Bantul 2006. Waktu itu program pelatihan dari pemeritah hingga LSM gencar dilakukan dengan harapan kerajinan batik Giriloyo tumbuh.

Hasilnya bisa dilihat, permintaan pasar terhadap batik tulis Giriloyo meningkat tajam. Sejumlah pejabat negara termasuk Ibu Negara Iriana Joko Widodo pernah belanja di showroom batik tulis Giriloyo.

Saat ini wisatawan tidak sekadar belanja batik, tetapi juga diberi kesempatan untuk belajar membatik,  serta program magang membatik. "Paket belajar membatik biasanya diikuti siswa-siswi dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan kota besar  di Indonesia. Sedang magang yang sudah dibuka tahun 2010 diakses instansi  pemerintah atau dinas dinas yang ada di Indonesia," ujar Agus Basuki.

Dalam setahun kunjungan siswa yang ingin belajar membatik mencapai 20.000 orang. Jumlah itu belum termasuk pengunjung di showroom batik tulis Giriloyo yang menyediakan batik kualitas terbaik, mulai harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. "Sebagai pusatnya batik tulis kami membuat komitmen bersama. Di Giriloyo tidak boleh memproduksi batik cap," ujarnya.

Oleh karena itu dari jumlah perajin 400 orang yang tersebar di tiga wilayah Cengkehan,  Karangkulon dan Giriloyo semua memproduksi batik tulis. Terkait dengan regerasi, Agus tidak pernah merasa khawatir karena sejumlah siswa disekolahnya terdapat mulok membatik. (Roy)

BERITA REKOMENDASI