Menyantap Bubur di Masjid Sabilurrosya’ad

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Tradisi berbuka puasa menu bubur sayur lodeh di Masjid Sabilurrosyad digelar sejak ratusan tahun silam. Tahun lalu kegiatan tersebut memang sempat berhenti wabah Covid-19. Namun tahun 2021, tradisi menu berbuka dengan bubur sayur lodeh kembali dihidupkan kembali dengan protokol kesehatan (prokes) meski hanya diikuti santri atau jemaah masjid.

Ketua Takmir Masjid Sabilurrosyad, Haryadi mengatakan berbuka menu bubur telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu atau ketika masjid berdiri. Tradisi tersebut dibawa oleh Panembahan Bodho yang bernama asli Adipati Trenggono.

Panembahan Bodho merupakan murid terakhir Sunan Kalijaga. Menurut riwayat, Panembahan Bodho menolak jabatan sebagai Adipati di Sidoarjo kemudian mensyiarkan Agama Islam.

“Menurut para leluhur, Panembahan Bodho waktu itu mendirikan masjid tahun 1570 atau abad ke 16. Warga disini menyebut Masjid Kauman karena berada lokasinya berada di Padukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak Kabupaten Bantul. Di Kauman Penembahan Bodho menyiarkan Islam melalui alkulturasi budaya yakni memakai sarana takjil bubur sayur lodeh,” ujarnya, Jumat (16/04/2021)

Akulturasi budaya yang dijalankan yang dijalankan Penambahan Bodho terlihat dari cara penyajian bubur. Bubur merupakan makanan khas Gujarat, India dikolaborasikan dengan sayur lodeh khas orang Jawa. “Dipilihnya bubur dan lodeh dengan pertimbangan, menu ini bisa lebih tahan panas dan lauk sebagai pelengkap sayur lodeh diantaranya tempe atau tahu,” ujarnya.

Dipilihnya bubur sayur sebagai menu berbuka di Bulan Ramadan di Masjid Sabilurrosyad sarat makna. Kata bubur berasal dari kata bibirin, punya makna kebagusan.

“Bubur punya filosofi halus dan halus itu bagus. Artinya Agama Islam diterima masyarakat ketika disampaikan dengan cara halus tanpa kekerasan,” ujarnya.

Selain itu, dipilih bubur karena saat itu orang Jawa kesulitan makan sehingga beras satu kilogram bisa dibuat banyak porsi. Bahan pembuatan bubur sayur lodeh berasal dari warga sekitar yang mengolah juga masyarakat.

Selama pandemi Covid-19, hanya menyediakan 100 porsi. Sebelum pandemi setiap berbuka mencapai 500 porsi. “Ketika berbuka tetap di masjid, tetapi harus menjaga jarak dan harus bermasker,” ujarnya. (Roy)

BERITA REKOMENDASI