Misteri Munculnya Induk Sidat, Tanda Bahaya Banjir di Bantul

BANTUL, KRJOGJA.com – Peristiwa banjir dan tanah longsor akhir pekan lalu masih menyisakan trauma bagi warga. Kehidupan memang sudah berangsur mulai normal, namun sisa bekas kerusakan masih terlihat disana sini.  

Jalan, talud hingga bangunan rumah yang semula terlihat begitu kokoh ambruk dilibas air. Setelah duka akibat peristiwa alam mulai bergegas pergi, kini warga mulai bisa cerita adanya peristiwa-peristiwa yang bisa dikatakan sebagai isyarat dari alam akan terjadinya musibah. 

Seperti dialami warga Ngliseng Banjarharjo Desa Muntuk Kecamatan Dlingo Bantul. Sebelum banjir melanda, dari arah puncak gunung tiba-tiba muncul induk sidat atau oleh warga ada yang menyebut pelus. Tentu kemunculan hewan jenis ikan itu membuat warga kaget. Setelah menggelepar ditengah jalanan kampung, sejumlah warga berusaha menangkap. 

"Banyak warga melihat dan ingin mengejar, namun pelus tersebut keburu masuk ke arah derasnya air," ujar Yulianto, Rabu (27/3/2019). Setelah pelus lenyap, kegaduhan mulai reda dan Warga kembali masuk rumah. Karena belum pernah sekalipun warga melihat hewan  berukuran panjang berada di saluran air dari puncak gunung itu.

Selang beberapa saat warga kembali geger setelah  banjir lumpur dan batu menerjang sebagian kampung.  Setelah banjir reda, warga mulai mengaitkan munculnya  indukan sidat itu sebagai pertanda akan terjadi banjir.  

"Kami yakin munculnya pelus itu sebenarnya  sebagai pertanda dan membawa kabar akan terjadi banjir sangat besar. Semua kami sadari setelah semua terjadi," ujar Yulianto. 

Warga seolah tidak percaya,  derasnya air gunung mempu membawa bongkahan batu sebesar kerbau.  Dikawasan itu ada satu rumah tertimbun longsor tanpa bisa dicegah, dua ruas jalan putus  dan sebuah rumah tidak bisa ditempati. Triyono mengatakan, jika banjir kali ini terbesar dalam sejarah adanya kampung Ngliseng. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Drs Dwi Daryanto MSi mengatakan, sekarang ini sudah jelas bahwa sungai di Bantul memang harus membangun talud. “Selama ini kan kita hanya merehab, tanpa membangun. Oleh karena itu kedepannya harus membangun talud sehingga  ketika banjir  tidak langsung mengenai warga,” ujarnya. 

Terkait dengan data, masih dilakukan  karena dampak banjir longsor efeknya terus bisa berjalan dan bisa bertambah. Terkait dengan hitungan kerugian Rp 50 miliar yang dikeluarkan Dinas PU  Bantul, hal itu menurut Dwi belum mencakup semua. 

“Estimasi kami justru diatas Rp 200 miliar,” tandas Dwi.(Roy)

BERITA REKOMENDASI