Nguras Enceh, Melestarikan Tradisi Warisan Nenek Moyang

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Ribuan orang dari berbagai daerah di DIY dan sekitarnya mengikuti prosesi tradisi nguras enceh di Kompleks Makam Raja Yogyakarta dan Imogiri, Jumat (27/09/2019). Mereka  berharap dengan izin Allah Yang Maha Kuasa air dari kurasan enceh itu  bermanfaat. Selain ingin ngalap berkah dari air, warga juga ingin makan nasi gurih.

Sebelum proses ‘nguras enceh’ kaum rais menggelar dzikir dan tahlil bersama para abdi dalem dan masyarakat. Enceh tersebut diberi nama Kyai Mendung dan Nyai Siyem milik makam raja Surakarta, serta Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti milik makam Raja Yogyakarta.

Baca juga :

Debit Air Irigasi untuk Pertanian di Bantul Tinggal 30%
Petani Andalkan Jagung Saat Kemarau

Penghageng Puroloyo Kota Gede dan Imogiri KRT Hastono Ningrat mengatakan, enceh tersebut merupakan pemberian dari sejumlah kerajaan sahabat yakni dari Bangkok Thailand, Aceh serta Palembang. Dijelaskan, dahulu enceh itu digunakan untuk wudhu Sultan Agung, oleh karena itu sekarang kita lestarikan di sini.

Sedang nguras enceh dilakukan setahun sekali setiap Bulan Sura hari Jumat Kliwon. “Misalnya tidak Jumat Kliwon ya Selasa Kliwon, setiap tahunnya,” ujarnya.

Enceh milik Kraton Yogyakarta di sisi barat dan bagian timur milik Kasunanan Surakarta. Menurutnya tradisi ini bukan simbol apa-apa, tapi mulai dari dulu hingga sekarang setiap tahun selalu dikuras. Air zam-zam dicampur dengan air dari sini. “Kita sendiri hanya melestarikan yang sudah-sudah,” ujarnya.

Selama ini warga mengambil air bekas kurasan seperti untuk diminum air. “Ya tergantung keinginan mereka dan itu pun kita tidak menganjurkan,” jelasnya. (Roy)

BERITA REKOMENDASI