Palsukan Tanda Tangan, Karyawan Notaris Dihukum 1 Tahun

SLEMAN, KRJOGJA.com – Staf notaris, Aziz Zamkarim bin Djamzani (50) warga Wonokromo Pleret Bantul akhir diganjar hukuman 1 tahun penjara potong masa tahanan kota dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Rabu (31/7/2019). Hukuman yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan jaksa Ismet Karnawan SH yang semula menuntut 3,5 tahun penjara.

Terdakwa yang telah memalsukan tanda tangan saksi korban Suahartinah dijerat pasal 263 ayat 1 KUHP. Atas hukuman yang dijatuhkan, terdakwa melalui penasihat hukum Bedi Setiawan Al Fahmi SH MKn dan Bayu Krisnapati SH MH masih menyatakan pikir-pikir. "Atas putusan tersebut kami menyatakan pikir-pikir selama tujuh hari," ujar Bedi kepada wartawan usai sidang.

 

Disebutkan, dalam pertimbangan hakim di persidangan, Bedi menyebutkan kalau saksi korban ikut melengkapi persyaratan penerbitan IPT. Sehingga bila terdakwa diajukan ke pengadilan seharusnya saksi korban ikut diadili karena turut serta melakukan tindak pidana.

Dalam amar putusan majelis hakim terungkap, awalnya saksi korban meminjam uang di BRI dengan jaminan dua sertifikat tanahnya di Prambanan Sleman. Ketika pinjaman jatuh tempo BRI akan melakukan pelelangan terhadap jaminan saksi korban yang belum memiliki kesanggupan melakukan pelunasan lalu bertemu dengan saksi Nora Laksono.

Dari pertemuan itu saksi Nora Laksono bersedia meminjamkan sejumlah dana dengan syarat saksi korban membuat perikatan jual beli dan dibuat di kantor tempat terdakwa bekerja yakni di Kantor Notaris Tri Agus Heryono SH. Saat itu saksi korban mau menandatangani akta perikatan jual beli karena menyadari tanah tersebut merupakan sawah yang hanya boleh dimiliki oleh warga dari kecamatan yang sama dengan lokasi tanah. Sementara Nora Laksono sendiri merupakan warga Semarang Jawa Tengah.

Sejak awal niat saksi korban membuat perikatan perjanjian jual beli untuk mencari pinjaman menghindari pelelangan bank dan akan segera melunasi. Untuk menghilangkan istilah bunga maka dibuatlah sewa menyewa Nora Laksono dengan saksi korban.
Tetapi pada Agustus 2011 terdakwa tanpa sepengetahuan saksi korban membuat permohonan Izin Pemanfaatan Tanah (IPT) sebagai syarat melakukan status perubahan tanah yang sebelumnya tanah sawah menjadi pekarangan sehingga dapat dimiliki warga dari luar kecamatan Prambanan.

Atas dasar perjanjian perikatan jual beli dan izin pemanfaatan tanah saksi Nora Laksono membalik kedua sertifikat tersebut menjadi atas nama kedua anaknya. Kemudian pada 4 September 2013 BPN Sleman mengeluarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) menjadi atas nama kedua anak Nora Laksono.

Beberapa tahun kemudian, saksi korban hendak melunasi utang kepada saksi Nora Laksono terkejut kedua sertitifikat miliknya beralih kepemilikan dengan dasar IPT. Untuk itu saksi korban melaporkan pemalsuan tanda tangan ke pihak berwajib dan diketahui terdakwa sebagai pelakunya. Akibat perbuatan terdakwa, saksi korban mengalami kerugian mencapai Rp 16,5 miliar. (Usa)

BERITA REKOMENDASI