Panembahan Senopati Rawat Dua Pasien Diduga Corona

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – RSUD Panembahan Senopati mengeluhkan minimnya stok Alat Pelindung Diri (APD) yang tersedia sebagai bagian dari antisipasi penyebaran Covid-19. Sementara RSUD Panembahan Senopati yang merupakan 1 dari 100 RS yang ditunjuk sebagai RS rujukan menangani Covid-19 juga dikeluhkan terbatasnya ruang isolasi. Adapun 2 ruang isolasi penanganan Corvid-19 yang saat ini ada semuanya telah terisi dua Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19.

Direktur RSUD Panembahan Senopati, dr I Wayan Marthana menuturkan pihaknya baru saja menerima dua pasien ODP Covid-19 pada Kamis (05/03/2020) pagi. Pasien ini disinyalir mengalami demam tinggi diatas 38 derajat celcius, nyeri tenggorokan sakit dan batuk pasca pulang dari umrah.

Sebelumnya RSUD menerima 4 pasien ODP setelah dilakukan pengecekan laboratorium ke RSUP dr Sardjito dua pasien di antaranya dinyatakan negatif (diperbolehkan pulang) dan dua lainnya masih menunggu pemeriksaan lanjut. “Terkait penanganan Covid-19 intinya kami siap. Namun apabila ada ledakan kasus kami sangat kuwalahan karena APD yang tersedia bagi tenaga kesehatan (nakes) sangat minim dan saat ini sulit diakses,” jelas ditemui usai rapat koordinasi tanggap darurat kebencanaan dan antisipasi serta penanganan wabah Covid-19.

Baca juga :

Sardjito Rawat Satu Mahasiswa Jepang Diduga Corona
Sampel Cairan Hidung Mahasiswa Jepang Diduga Corona Dikirim ke Jakarta

Adapun stok APD yang tersedia di antaranya gaun baju steril menyerupai astronot ada 24 gaun (merupakan gaun sekali pakai), tameng muka khusus (seperti topeng) 50 pieces dan masker khusus N95 memiliki stok 200 pieces. “Selain kami menunggu pengadaan dari Kemenkes kami juga meminta pengadaan APD ke perusahaan farmasi. Adapun permohonan ini sudah dilalukan sejak 2 bulan lalu namun stok APD di perusahaan farmasi tersebut kosong,” tambahnya.

Selain mewaspadai pasien ODP, kewaspadaan juga dilakukan pada kawasan tempat tinggal dan banyaknya orang yang sudah berinteraksi. “Tugas berat kami tidak hanya pada pasien tetapi pengawasan kepada siapa saja yang telah melakukan kontak langsung dengan pasien,” kata Wayan Marthana. (Aje)

BERITA TERKAIT