Pasangan Usia Subur Nyaman Pakai KB Alami

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Jumlah pasangan usia subur (PUS) di Pedukuhan Gandekan Guwosari Pajangan Bantul yang menggunakan metode alami untuk pencegahan kehamilan cukup dominan. Persentasenya lebih tinggi dibanding pedukuhan lain, termasuk akseptor Keluarga Berencana (KB) pengguna alat kontrasepsi.

Mereka lebih nyaman karena metode ini cukup simpel di antaranya dengan sistem kalender, pemberian ASI eksklusif, pengukuran suhu tubuh dan sebagainya. Temuan itu diungkapkan mahasiswa Prodi D III Kebidanan STIKes Akbidyo, saat memaparkan hasil praktik Klinik Asuhan Kebidanan Keluarga dalam Komunitas di Balai Desa Guwosari Pajangan Bantul.

Baca juga :

Hidupkan Ekonomi, Manfaatkan 'Exit-Entry' Jalan Tol
Layanan Tera Kota Yogya Mulai Dikenai Retribusi

Selama 2 minggu mereka praktik klinik pada tujuh pedukuhan di Desa Guwosari. Pada forum itu Wakil Ketua I STIKes Akbidyo Dr dr Mahindria Vici Virahayu SpOG, berpamitan sekaligus melaksanakan penarikan mahasiswa yang telah selesai praktik. Menanggapi temuan itu, dengan berseloroh Lurah Desa Guwosari Mazduki Rahmad SIP, mengatakan warga Gandekan sudah 'canggih’ dalam urusan mencegah kehamilan meski tanpa alat kontrasepsi. ”Ini bukti Dukuh Gandekan cukup ahli dan pintar menularkan ilmunya,” selorohnya.

Mazduki berharap, data-data temuan mahasiswa STIKes Akbidyo akan dijadikan modal Pemdes Guwosari untuk menyusun program dan jadi acuan untuk mengeluarkan kebijakan layanan kesehatan bagi masyarakat setempat. Data itu bisa ditindaklanjuti para dukuh dan kader. Dia juga berharap bisa diberi rekomendasi penanggulangan atas temuan kasus.

"Saya harap kerja sama ini bisa ditingkatkan. Semoga mahasiswa bisa mengambil pelajaran berharga setelah berinteraksi langsung dengan masyarakat. Hal ini bisa jadi modal dalam memberi edukasi kesehatan kepada masyarakat,” tegasnya.

Ketua Program Studi STIKes Akbidyo Endang Khoirunnisa SST MKes, menjelaskan sebanyak 92 mahasiswa selama 2 minggu (6-17 Januari) melakukan praktik asuhan kebidanan keluarga dalam komunitas. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok untuk 7 pedukuhan di desa Guwosari. Kegiatan mereka di antaranya, pengkajian, pendataan, penyuluhan tentang kesehatan ibu dan anak, ASI eksklusif, penyuluhan 1.000 hari pertama bayi dan sebagainya. (Ben)

BERITA REKOMENDASI