Pemerintah Isolasi Ternak Itik di Samas

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRJogja.com) – Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Disperpautkan) Bantul masih menunggu kepastian hasil uji sampel Balai Besar Veteriner (BB Vet) terkait matinya rutusan itik di Samas  Sanden Bantul. Langkah yang diambil untuk sementara mengisolasi seluruh kandang unggas di kawasan pantai itu. Untuk sementara tidak boleh ada itik keluar atau masuk ke kandang-kandang tersebut. Langkah tersebut diambil untuk mencegah wabah penyakit  menyebar ke ternak lainnya.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Disperpautkan Bantul, Joko Waluyo SPt MSi, Selasa (7/11) mengatakan,  keputusan tersbeut diambil karena ada dugaan serangan pemicu ratusan itik mati akibat serangan virus avian influenza (AI) atau flu burung semakin menguat. Menurutnya dugaan tersebut masih sebatas hasil pengamatan kasat mata dari kotoran itik yang sakit dan bangkainya. "Pastinya kami masih menunggu uji lab. Isolasi juga belum ditentukan sampai kapan," ujarnya.

Sebelum keputusan isolasi diambil, semua kandang sudah disemprot disinfektan sebagai cara mematikan virus yang masih tertinggal di sekitar kandang. Selain penyemprotan disinfektan serta isolasi, virus juga bisa mati terkena sengatan panas matahari.  Tetapi musim pancaroba dapat memperluas sebaran virus. Setelah diisolasi, hingga sekarang pihaknya belum informasi adanya itik mati ataupun kejadian serupa di tempat lainnya. 

Disperpautkan juga melakukan langkah antisipasi lain diantaranya melakukan penyemprotan disinfektan di pasar-pasar unggas di Bantul oleh petugas dari Puskeswan, hari ini di Pasar Turi. Dinas juga memperketat pengawasan di wilayah perbatasan seperti Bantul dengan Kulonprogo. "Seperti Pasar Mangir, jelas kami pantau secara khusus," kata Joko.

Kepala Disperpautkan, Ir Pulung Haryadi MSc mengatakan, pihaknya menduga ada dua pemicu utama adanya serangan virus ini. Pertama peternak mungkin membeli itik yang sudah dewasa dari luar wilayah untuk menambah populasi ternak. Padahal tindakan itu berpotensi menjadi vektor virus yang terbawa dari luar. Kemungkinan lainnya pembeli/bakul masuk langsung ke kandang dan memilih ternak yang akan dibeli. Padahal hal tersebut sangat dilarang dilakukan. Sebab pembeli/bakul yang setiap hari bergumul dengan ternak dari tempat lain juga bisa jadi vektor virus. (Roy)

BERITA REKOMENDASI