Pencarian Santri Hilang di Pantai Goa Cemara Terus Dilakukan

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Proses pencarian lima korban tenggelam di Pantai Goa Cemara Desa Gadingsari Kecamatan Sanden Bantul terhambat tingginya gelombang. Sementara SAR melakukan pencarian dengan jet sky agar bisa menjangkau ke tengah laut. Sebagaimana diketahui dua santri Ponpes As Salam Kerisan Banyurejo Tempel Sleman ditemukan tewas setelah terseret arus.

Korban korban meninggal dunia yakni Ny Ulli Nur Rochmi (28) dan Ahmad Nur Fauzi (30) keduanya warga Tempel Sleman. Lima korban yang belum ditemukan Joko Widodo (38), M Zakir Alfarizi (8), M Rizky Romadhon (7), Ahmad Chairul Fatah (4) serta M Zidan Abdori (8) kelimanya warga Tempel Sleman.

Dir Polairud Polda DIY, Kombes Pol Rudi Rifani SIK didampingi KBO Dit Polair Polda DIY, AKBP Bayu Herlambang, Jumat (07/08/2020) mengungkapkan dalam operasi pencarian tersebut sedikitnya diterjunkan 150 personel dari berbagai unsur. Mulai dari, Polair, SAR, TNI/Polri , Basarnas, PMI dan relawan dari berbagai komunitas.

Dijelaskan, dalam pencarian lewat jalur darat tersebut dibagi dalam empat kelompok. “Dua tim menyisir sepanjang pantai Goa Cemara ke barat serta dua tim lainnya ditimur Pantai Goa Cemara,” ujar Rudi.

Untuk saat ini pencarian difokuskan lewat jalur darat mengingat gelombang cukup tinggi. Selain fokus disekitar lokasi kejadian, personel Polair juga siaga di Pantai Congot Kulonprogo. “Informasi dari BMKG arah arus ke barat, sehingga kami tempatkan juga di Pos Pantai Congot dan pantai Kulonprogo,” ujar Rudi.

Sementara Komandan SAR Korwil 3, Ali Sutanta Jaka Saputra mengungkapkan saat ini paling efektif pencarian dilakukan dengan jet sky. Dengan tinggi gelombang mencapai 2 meter lebih sulit jika pencarian dengan perahu jukung, sedangkan menggunakan jet sky pencarian bisa dilakukan hingga 5 km dari tepi pantai.

“Tadi saya ke tengah sudah mencapai jalur tangki kemudian ke barat sampai Pantai Baru dan ke timur Pantai Samas. Tapi di tengah memang gelombang cukup tinggi itu menjadi kendala di lapangan,” ujar Ali.

Sementara Pengasuh Ponpes As Salam Kerisan Banyurejo Tempel Sleman, KH Ashari Zainal Abidin mengungkapkan korban dalam musibah tersebut merupakan santri pondok. Bahkan dua korban yang ditemukan meninggal hafal Al-Quran.

Ashari meminta untuk musibah ini pihaknya minta tidak saling menyalahkan. Semua sudah menjadi kehendak Allah SWT dan segera ditemukan.

“Harapan kami korban segera ditemukan agar tidak membuat repot banyak orang seperti ini. Oleh karena itu kami hanya bisa berdoa kepada Allah,” ujar KH Ashari. (Roy)

BERITA REKOMENDASI