Pendidikan Karakter Dimasa Pandemi Covid -19

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Pada masa pandemi Covid-19 merupakan tantangan bagi dunia pendidikan. Banyak hal yang terkena dampak pandemi, utamanya dunia pendidikan. Kondisi perubahan pola pendidikan dari tradisional berubah dengan online sangat mempengaruhi kondisi psisikologi anak. Juga akan berdampak terhadap pendidikan karakter peserta didik.

Menurut Heru Sudibyo SSos MM, anggota DPRD Bantul dari Fraksi Partai Golkar, pendidikan karakter adalah proses pembelajaran pengetahuan yang diajarkan kepada generasi selanjutnya tentang watak , sifat dan kepribadian seseorang yang ditunjukkan agar seseorang mempunyai kebiasaan yang baik atau positif, guna menunjang proses belajar, sehingga terukur.

Nantinya menjadi seorang yang bermanfaat baik untuk dirinya, keluarganya, masyarakat dan terus dikembangkan. Pengembangan tersebut agar dapat menjalani kehidupan yang bermanfaat berakhlak mulia , berperilaku baik dan menghormati pendapat orang lain.

“Hal ini diharapkan bisa diterapkan di sekolah- sekolah agar siswa mampu dan berfikir positif. Disamping itu juga pengembangan di lingkup masyarakat , pemerintah sehingga apabila seseorang berakhlak mulia tentu banyak dibutuhkan dan bisa menjadi teladan. Sehingga nilai-nilai budaya dapat terus terpelihara budi pekerti, tindak tanduk seseorang akan tercermin pada karakternya,” ungkapnya.

Senada dengan Paidi SIP, yang juga dari Fraksi Partai Golkar DPRD Bantul, dalam situai pandemi Covid-19 menyebabkan proses pembelajaran terhambat, guru tidak dapat mengikuti perkembangan siswa secara langsung sehingga pendidikan karakter mengalami hambatan.

Menurut Paidi, untuk menyudahi hal ini perlu adanya pembelajaran secara daring, dibuatkan kelompok belajar yang bertujuan untuk memotivasi siswa dalam menghadapi kesulitan. Guru bisa memberikan penugasan kepada siswa dengan pemberian tugas, hal ini dilakukan supaya anak bisa memunculkan rasa kerjasama dan empatinya meski terhalang jarak ,sehingga siswa tidak merasa jenuh.

Seperti pernyataan Mendikbud, Nadien Makarin, ”Prioritas utama pemerintah yakni mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga pendidik, keluarga dan masyarakat secara umum, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi Covid- 19, sehingga alternatif yang tepat untuk mengatasi masalah ini, yaitu melalui pembelajaran jarak jauh atau PJJ.

Dari pernyataan tersebut dapat diurai, pandemi Covid-19 menyebabkan sekolah- sekolah ditutup sehingga pembelajaran dilaksanakan dengan jarak jauh. Guru tidak bisa mengajar tatap muka dengan siswa, karena pembelajaran secara daring.

Guru tidak dapat mengikuti perkembangan siswa sehingga pendidikan karakter terhambat dan siswa merasa jenuh atau bosan. Maka perlu cara mengajar yang menyenangkan di masa pandemi secara luring, yakni dengan memberikan bahan ajar dengan menggunakan gambar yang menarik untuk siswa yang sesuai dengan bahan ajar.

Memberikan tugas yang tidak terlalu banyak sehingga menimbulkan kebosanan. Serta memberikan tugas dengan memberikan game atau teka- teki silang yang sesuai dengan bahan ajar.

Mendidik karakter di masa pandemik, yakni dengan membangun kerjasama yang kuat antara guru dengan orangtua maupun masyarakat. Guru dari sekolah selalu memonitor perkembangan belajar perserta didik. Selain itu, guru selalu memberikan tugas dan motivasi sehingga peserta didik tidak jenuh belajar.

Kemudian memberikan lembar kontrol kepada peserta didik. Siswa menuliskan semua kegiatan  yang menunjukkan implementasi karakter yang dilakukan di rumah pada kertas atau buku yang telah ditentukan kemudian ditandatangani oleh orang tua.

“Juga mendesain metode pembelajaran yang menuntut peserta didik bisa mandiri, kreatif, disiplin serta bertanggungjawab. Guru menjadi teladan bagi peserta didik. Guru tidak hanya memberikan tugas, ceramah, tetapi juga harus memberikan contoh kepada peserta didik,” pungkasnya. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI