Perajin Bata Keluhkan Tingginya Harga Bahan Baku

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Musim kemarau mestinya membawa keuntungan bagi perajin batu bata merah yang ada di Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan Bantul. Tapi bahan baku tanah cenderung naik dan bahan lainnya tak kalah mahal.

"Sekarang bahan baku tanah harus beli dari luar. Tanah biasa dari Sleman atau Klaten, sedangkan tanah lempung dari desa lain. Tapi sekam rambut harus didatangkan dari Praci dan harganya cukup mahal," tutur salah satu perajin dari Dusun Padangan Desa Sitimulyo Piyungan, Harto (64).

Untungnya, Harto mengerjakan bersama istrinya, sehingga biaya produksi bisa ditekan. Sebab, kini harga jual perbiji batu bata merah ialah Rp 500 jika pembeli mengambil sendiri sebanyak 1.000 biji. Setiap bulannya, Harto bisa memproduksi sebanyak 20 ribu biji bata merah.

"Prosesnya sebulan sekali bakarnya. Meski bisa 20 ribu biji, tapi ongkos beli bahan baku tanah biasa bisa butuh enam truk, serta tanah lempung dua colt. Belum lagi beli serbuk gergajinya dan sekam rambut, tentu keuntungan bersih sangat mepet," urainya.

Sementara perajin lain dari Dusun Ngampon Desa Sitimulyo, Aman (45) mengatakan, sekam rambut sempat diharga Rp 3 juta. Sedangkan tanah biasa dari Rp 430 ribu terus naik menjadi Rp 550 ribu satu truknya. "Untuk saat ini bahan baku masih mudah didapat, tapi ya harganya cenderung naik," tandasnya. (Adk)

BERITA REKOMENDASI