Pernah Kenakan Blangkon? Berikut Cara Membuatnya

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRjogja.com) – Blangkon identik dengan busana tradisional masyarakat jawa, khususnya jawa tengah dan yogyakarta. Dalam perkembangannya, blangkon tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saja, namun juga simbol status bagi masyarakat pemakainya.

Blangkon di setiap daerah mempunyai ciri khas masing masing. Seperti blangkon gaya yogyakarta, mempunyai tekstur dan motif yang berbeda dari daerah lain, misal jawa tengah, jawa barat, solo dan lainnya.

Salah satu perajin blangkon di Yogyakarta, Nurjanah warga kampung kentolan kidul, rt 06 Guwosari Pajangan Bantul dibantu delapan belas karyawannya konsisten memproduksi kerajinan khas peninggalan leluhur ini. Nurjanah mengakui di wilayah yogyakarta khususnya belum banyak perajin yang memproduksi blangkon, padahal pesanan blangkon untuk oleh-oleh khas masih cukup banyak, belum lagi pesanan yang bersifat pribadi.

"Proses produksi blangkon tidaklah serumit yang dibayangkan. Namun kecermatan dan ketelatenan, sangat mempengaruhi kualitas hasil jadi blangkon," ujarnya kepada KRjogja.com belum lama ini.

Tahap pertama pembuatan blangkon adalah melipat kain atau mewiru dengan cara membasahi, membalik balik dan melipat untuk mendapatkan ukuran yang sama. Kain hasil wiru kemudian ditempatkan pada landasan kayu seukuran kepala atau biasa disebut klebut untuk kemudian dibentuk menjadi blangkon. Proses selanjutnya adalah merapikan dengan cara dipukul pukul dan membersihkan benang benang yang serabutan. Tahap akhir blangkon disikat dan dijemur panas matahari.

Harga blangkon karya Nurjanah bervariasi mulai dari 15 ribu hingga 250 ribu. Teknologi internet juga cukup membantu pemasaran blangkonnya, tidak hanya pasar lokal jogja, ibu nurjanah bahkan banyak mendapatkan pesanan dari luar kota.

Dalam satu hari satu orang karyawan rata-rata mampu membuat 5-6 blangkon dengan kualitas biasa. Namun untuk pesanan khusus dengan kualitas halus, blangkon dapat dikerjakan hingga 2 hari. Ibu nurjanah mengaku kendala yang dihadapi dalam memproduksi blangkon adalah kesulitan mendapatkan bahan baku, khususnya saat musim liburan tiba.

Sebagai industri kecil rumahan, Nurjanah berharap peran serta pemerintah dalam pengembangan  blangkon khususnya untuk pemasaran produksi, harus diakui industri ini terbukti mampu mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan anak-anak muda diwilayah sekitarnya. (*)

BERITA REKOMENDASI