Petani Bantul Coba Budidaya Kedelai Jepang

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRJOGJA.com – Upaya peningkatan kesejahteraan petani terus ditempuh dengan melakukan budidaya produk pertanian bernilai ekonomis tinggi. Selain bertumpu pada komoditas padi dan juga sayur mayur, petani di Kabupaten Bantul diedukasi untuk memilih varietas lain yang jauh lebih menguntungkan. 

Hal ini seperti yang dilakukan Koperasi Gemah Ripah Damandiri Desa Trirenggo Kecamatan Bantul  Kabupaten Bantul.

"Sebagai pilot project saat ini kami sudah mengembangkan sekitar 1 hektare lahan kedelai Jepang (Ida Mame) yang pertengahan  Bulan Februari mendatang sudah panen," ujar Ketua Program  Budidaya Kedelai Jepang (Ida Mame), H Ambyah  temuai di Bulak Gandekan Bantul, Kamis (30/1). 

Ambyah  mengatakan, selain lahan yang sudah siap panen. Sekarang kini tengah dikembangkan lahan baru di daerah Code. Dijelaskan,  dengan varietas kedelai Jepang ini sebenarnya sebuah langkah nyata untuk memberikan kesejahteraan bagi petani. Karena tidak bisa petani selamanya akan bertumpu pada padi. 

"Kedelai ini jenisnya  kedelai sayur, tidak seperti kedelai -kedelai kebanyakan untuk bahan baku tempe atau pun tahu," ujaranya. 

Dilihat dari aspek umur,  masa tanam hingga panen butuh waktu antara 65 hingga 70 hari. Selain itu, kedelai Jepang  justru lebih banyak membutuhkan air. Dalam artian untuk menghasilkan produksi banyak tanam membutuhkan banyak air dilahan. "Petani selain  fokus pada komoditas padi. Juga  bisa melihat potensi lainnya salah satunya mengembangkan kedelai Jepang ini yang secara ekonomis lebih menguntungkan," ujarnya.  

Ambyah mengungkapkan, meski masa panen masih pertengahan bulan depan, tetapi sudah ada pembeli sanggup membayar Rp 7.500,/kg. Padahal dengan hitungan minimal, satu meter bisa menghasilkan 1 kg kedelai. Sedang kebutuhan bibit untuk  1.000 meter butuh  8 kg. (Roy)

 

BERITA REKOMENDASI