RSPAU Hardjolukito Kini Tangani Pasien Jiwa

BANTUL, KRJOGJA.com – Berdasarkan data WHO, gangguan depresi menempati ranking 2 di dunia setelah gangguan cardiovaskuler. Bahkan hasil Riset Kesehatan Dasar Balitbangkes pada 2013, kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih 1 permil.

Namun di tahun 2018 terjadi peningkatan yang signifikan yakni menjadi 7 permil. Jika diasumsikan penduduk Indonesia sebesar 265 juta jiwa, maka diperkirakan hampir 2 juta penduduk mengalami gangguan jiwa. Demikian diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna SE MM saat meresmikan Gedung Paviliun Psikiatri di RSPAU dr S Hardjolukito, Minggu (03/11/2019) sore.

“Saat ini cukup banyak orang yang terganggu kesehatannya karena stres. Sehingga saya menyambut baik dan mengapresiasi fasilitas khusus gangguan jiwa di RSPAU ini. Tentu harapannya, ini sebagai upaya antisipasi pasien stres yang menginginkan pelayanan dengan tingkat privasi tinggi,” terang KSAU.

Sedangkan menurut Kepala RSPAU dr S Hardjolukito Marsma TNI dr Djunadi MS SPKP, selama ini tidak sedikit jumlah orang yang terganggu jiwanya datang dari kalangan kurang mampu. Hanya saja, sekarang sudah terlanjur ada stigma negatif tentang pasien gangguan jiwa.

“Untuk itulah kami hadir dengan fasilitas baru atau paviliun khusus untuk menangani pasien jiwa secara lebih terjamin,” tutur dr Djunadi seraya menjelaskan bangunan seluas 500 meter persegi tersebut diawaki oleh 15 perawat terlatih. Dengan hadirnya paviliun psikiatri ini pihaknya berharap dapat memberikan pelayanan terbaik dengan menjunjung
tinggi harkat pasien sebagai manusia.

Kepala Bagian Jiwa Militer RSPAU Hardjolukito Letkol Kes dr Wahyudi Sp KJ menjelaskan, paviliun itu dibuat seperti wisma atau ‘guest house’. Maksudnya agar pasien merasa nyaman dan untuk menghilangkan stigma negatif RSJ yang kumuh. Namun paviliun ini khusus untuk pasien umum. Atau sasaran utamanya ialah masyarakat mampu atau menengah keatas yang ingin mengobatkan keluarganya agar bisa disembuhkan.

“Disini kami membagi menjadi tiga tahapan. Pertama, jika pasien mengamuk maka akan masuk isolasi. Kedua, pasien setengah ngamuk masuk di unit perawatan intensif. Sedang ketiga ialah pasien yang tenang bisa masuk kamar VIP bersih, ada AC dan TV-nya. Inilah yang coba kami hadirkan untuk menjawab kegelisahan masyarakat yang memiliki pasien jiwa tetapi bisa dirawat di rumah sakit umum, dan kami jawabannya,” jelas dr Wahyudi. (Adk)

 

BERITA REKOMENDASI