Sedulur Lawas Paserbumi Cinta Damai, Dukung Pilkada Bantul yang Kondusif

BANTUL, KRJOGJA.com – Perilaku anarkis suporter sepakbola merupakan sebuah pelanggaran terhadap sistem yang ada di dalam masyarakat sehingga terjadilah kondisi disorganisasi sosial, biasanya tawuran atau bentrok yang terjadi antar kelompok supporter sepakbola bermula dari masalah yang sangat sepele. Salah satu masalah sepele yang dapat menjadi pemicu bentrok antar suporter adalah aksi saling ejek, nyanyian yel-yel rasis terhadap kelompok supporter team lawan, atau spanduk dan bendera yang bertuliskan kata-kata mengumpat yang bersifat merendahkan klub lawan.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta kerusuhan yang terjadi antar suporter sepakbola sangat sering terjadi, mengingat ada tiga klub sepakbola yang eksis berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu PSIM Kota Yogya, PSS Sleman, dan PERSIBA Bantul. Ketiga klub tersebut sama-sama memiliki jumlah suporter yang sangat banyak dan berdomisili di masing-masing kabupaten, padahal jarak perbatasan antar ketiga kabupaten tersebut sangatlah dekat.

Di Yogyakarta catatan hitam mengenai tragedi terjadinya kerusuhan supporter sepakbola sudah banyak terjadi dari tahun ketahun. Sudah banyak korban-korban yang berjatuhan baik dari pihak suporter sepakbola maupun masyarkat umum, bahkan pernah mengakibatkan korban meninggal dunia. Korban meninggal dunia akibat kerusuhan suporter sepakbola pernah terjadi pada tahun 2012 dan 2014.

BERITA REKOMENDASI