Selama Pandemi Perajin Kulit Manding Tidak Ada Export

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Selama pandemi Covid-19, pasaran industri kerajinan kulit di Sentra Kerajinan Kulit Manding Sabdodadi Bantul sepi, bahkan tidak ada kegiatan eksport. Menurut salah satu perajin kulit di Manding, Suratman yang putra dari perintis industri kerajinan kulit Manding, Ratno Suharjo (alm), selain tidak ada kegiatan eksport kerajinan, sejak diberlakukan PPKM jumlah pengunjung yang datang ke Manding turun drastis.

“Ya kalau Sabtu dan Minggu bisa mencapai 40 hingga 50 pengunjung, tapi pada hari biasa paling hanya 10 pengunjung,” ungkap Suratman.

Karena pengunjung sepi, jumlah omset penjualan juga menurun drastis. Toko kerajinan yang sebelum pandemi mempunyai 50 tenaga kerja terpaksa dikurangi menjadi 15 hingga 20 orang. Yang semula mempunyai 5 atau 6 orang, sekarang ditangani sendiri.

Diungkapkan, di tempatnya sendiri yang termasuk perajin bermodal kecil, sebelum pandemi omset penjualannya bisa Rp 50.000 setiap hari, setelah ada pandemi Covid dan diberlakukan PPKM hanya Rp 10.000 sudah lumayan.

Menurut Suratman, jumlah perajin kulit asli warga Manding dari tahun ke tahun juga semakin berkurang. Pada tahu 2007 masih ada sekitar 20 orang, sekarang tinggal 10 orang. Jenis kerajinan kulit yang diproduksi diantaranya, sepatu, sandal, tas, ikat pinggang dan jaket.

Harga kerajinan kulit Manding untuk jenis tas bisa mencapai Rp 250.000 hingga Rp 500.000, tergantung kualitas, model dan besar kecilnya. Harga sepatu atau sandal antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Sedang untuk kebutuhan bahan baku berupa kulit saat ini tidak ada kendala yang bisa diperoleh di wilayah Jawa. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI