Semua Objek Wisata di Bantul Bisa Terdata dalam Resi Deswita

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih meluncurkan Aplikasi Regrestasi Destinasi Wisata (Resi Deswita) yang bertujuan untuk mendata keberadaan dan kondisi objek wisata di Bantul, Selasa (02/11/2021) di rumah makan bebakaran Manding, yang dihadiri pengelola objek wisata se Kabupaten Bantul. Dengan peluncuran aplikasi Resi Deswita Kabupaten Bantul ini Bupati Bantul berharap, Destinasi Wisata yang ada di Bantul akan terdata dan tercatat dengan baik sehingga dapat menjadi salah satu pedoman dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan di sektor pariwisata Kabupaten Bantul.

Di Bantul saat ini memiliki sekitar 257 destinasi wisata berbasis budaya , alam dan buatan. 43 desa wisata, 10 desa budaya, 9 rintisan desa budaya, 16 musium, 1.200 kelompok seni budaya, 75 sentra UKM dan sekitar 1.200 kelompok seni budaya. “Masih banyak pula potensi lain yang bisa menjadi produk andalan tersebar di seluruh Bantul. Sedangkan urutan produk domistik regional bruto pertama adalah industri, kedua pertanian dan ketiga pariwisata,” ungkap Halim.

Menurut Bupati Bantul, karena besarnya potensi yang dimiliki sektor pariwisata yang ke depannya masih bisa dikembangkan, maka pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan Pemkab Bantul setelah sektor industri dan pertanian.

Dengan pendataan destinasi wisata, pembangunan wisata akan memiliki arah tujuan yang jelas, karena sektor pariwisata juga efektif dan dapat diandalkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan merupakan sektor pengungkit, serta mendorong menggeliatnya sektor- sektor yang lain seperti sektor perdagangan dan sektor industri.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo SSos menambahkan, diluncurkannya Aplikasi Resi Diswita di Bantul ini akan memudahkan pendataan objek wisata se Bantul berkaitan dengan lokasinya, pengelolanya, kepengurusannya, bentuk wisata yang disajikan dan lainnya, sehingga memudahkan pembinaannya, pengarahannya, utamanya pengawasan untuk keamanan pengunjung. ”Juga jangan sampai ada persaingan tidak sehat yang malah akan merugikan objek wisata itu sendiri,” pungkas Kwintarto. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI