Sepekan Kedepan Armada Sampah Diperkirakan Sulit Masuk TPST Piyungan

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Dalam sepekan ke depan diperkirakan armada akan kesulitan membuang sampah ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul. Hal itu terjadi karena pada Jumat (07/02/2020) siang saja armada truk pengangkut sampah harus antre berjam-jam untuk melakukan bongkar muat. Jika tidak segera diambil langkah antisipasi saat hujan turun pasti akan timbul permasalahan di TPST Piyungan.

”Saya tadi mulai antre pukul 10.30 dan baru bisa bongkar jam 15.00. Ini persoalan serius. Kami menanggung sampah milik warga, kami berharap persoalan di sini betul-betul diselesaikan,” ujar seorang pelaku jasa pengambil sampah Darin Priyanto di TPST Piyungan.

Dampak tersendatnya proses bongkar muat di TPST Piyungan mengakibatkan pengambilan sampah di masyarakat terhambat. Karena dalam kondisi normal satu minggu mengambil sampah di masyarakat dua kali.

Tetapi sekarang hanya satu kali. Kini butuh waktu sehari untuk antre di TPST. ”Saya sebagai masyarakat kecil hanya bisa berharap kepada pemerintah saat musim kemarau tolong dipersiapkan serius sehingga kalau musim hujan seperti ini tidak terjadi masalah,” jelasnya.

Ketua Eker Golek Menir (paguyuban jasa pengambil sampah swasta) Sodik Marwanto mengatakan, kondisi sulit untuk melakukan bongkar sampah sudah terjadi sepekan terakhir.

“Kalau seperti ini terus saya perkirakan minggu depan sudah tidak bisa melakukan pembuangan sampah lagi dan akan terjadi masalah lagi seperti
akhir tahun 2019 lalu,” ujarnya.

Sodik juga heran kerusakan alat berat belum diperbaiki juga. Padahal alat tersebut dibutuhkan setiap hari untuk melakukan bongkar muat sampah.

Menurutnya, pemerintah harus memikirkan persoalan di TPST Piyungan secara serius. Antrean panjang terjadi karena dermaga hanya dua dan sangat padat, kalau tidak didorong dengan alat berat sudah tidak bisa masuk.

“Kami sebagai jasa pengambil sampah di masyarakat setiap hari mendapat
protes karena pengambilan tidak rutin. Itu kami akui tidak bisa rutin mengambil karena di TPST Piyungan kami tidak bisa melakukan bongkar langsung, harus antre bahkan
bisa berjam-jam,” jelasnya.

Sekda DIY Drs K Baskara Aji mengungkapkan, sebetulnya sejumlah upaya sudah dilakukan Pemda DIY untuk mengatasi persoalan sampah di TPST Piyungan. Namun karena persoalan yang dihadapi cukup kompleks, hasilnya belum bisa optimal. Karena tempat penampungan sampah yang saat ini ada, setiap hari volumenya akan bertambah.

Sementara kondisi truk yang membawa sampah tidak berbentuk dump truck, sehingga saat dilakukan pembongkaran membutuhkan waktu lebih lama yang berdampak terjadinya antrean di sekitar TPST Piyungan. Untuk mengurangi antrean panjang, pihaknya mengimbau agar pembuangan sampah menggunakan dump truck supaya waktunya bisa lebih singkat. Pemda DIY dalam hal ini Dinas PUP ESDM pada tahun 2020 juga berencana membangun jalan yang sejajar dengan jalan yang sudah ada sekarang.

“Saat hujan biasanya truk tidak bisa masuk terlalu jauh, karena kondisi jalanan becek. Akibatnya banyak sampah yang menumpuk di pinggiran. Kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi, salah satunya sejak dari rumah tangga sebaiknya sudah dilakukan pemilahan sampah. Dengan adanya pemilahan sampah tersebut diharapkan bisa mengurangi jumlah sampah yang dibuang di TPST Piyungan,” ujar Baskara Aji.

Sekda DIY menambahkan, persoalan sampah menjadi salah satu program prioritas penanganan bagi DIY. Salah satu bentuk keseriusan itu, Pemda DIY tengah menunggu investor dengan
skema Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Nantinya investor
tidak hanya memikirkan aspek ekonomis tapi juga sosial.

Dengan adanya KPBU, tidak sekadar menyelesaikan sampah baru. Tetapi, kapasitas sampah dengan volume mencapai 600 ton perhari juga harus diselesaikan. (Roy/Ria)

BANTUL, KRJOGJA.com – Dalam sepekan ke depan diperkirakan armada akan kesulitan membuang sampah ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul. Hal itu terjadi karena pada Jumat (07/02/2020) siang saja armada truk pengangkut sampah harus antre berjam-jam untuk melakukan bongkar muat. Jika tidak segera diambil langkah antisipasi saat hujan turun pasti akan timbul permasalahan di TPST Piyungan.

”Saya tadi mulai antre pukul 10.30 dan baru bisa bongkar jam 15.00. Ini persoalan serius. Kami menanggung sampah milik warga, kami berharap persoalan di sini betul-betul diselesaikan,” ujar seorang pelaku jasa pengambil sampah Darin Priyanto di TPST Piyungan.

Dampak tersendatnya proses bongkar muat di TPST Piyungan mengakibatkan pengambilan sampah di masyarakat terhambat. Karena dalam kondisi normal satu minggu mengambil sampah di masyarakat dua kali.

Tetapi sekarang hanya satu kali. Kini butuh waktu sehari untuk antre di TPST. ”Saya sebagai masyarakat kecil hanya bisa berharap kepada pemerintah saat musim kemarau tolong dipersiapkan serius sehingga kalau musim hujan seperti ini tidak terjadi masalah,” jelasnya.

Ketua Eker Golek Menir (paguyuban jasa pengambil sampah swasta) Sodik Marwanto mengatakan, kondisi sulit untuk melakukan bongkar sampah sudah terjadi sepekan terakhir.

“Kalau seperti ini terus saya perkirakan minggu depan sudah tidak bisa melakukan pembuangan sampah lagi dan akan terjadi masalah lagi seperti akhir tahun 2019 lalu,” ujarnya.

Sodik juga heran kerusakan alat berat belum diperbaiki juga. Padahal alat tersebut dibutuhkan setiap hari untuk melakukan bongkar muat sampah.

Menurutnya, pemerintah harus memikirkan persoalan di TPST Piyungan secara serius. Antrean panjang terjadi karena dermaga hanya dua dan sangat padat, kalau tidak didorong dengan alat berat sudah tidak bisa masuk.

“Kami sebagai jasa pengambil sampah di masyarakat setiap hari mendapat protes karena pengambilan tidak rutin. Itu kami akui tidak bisa rutin mengambil karena di TPST Piyungan kami tidak bisa melakukan bongkar langsung, harus antre bahkan bisa berjam-jam,” jelasnya.

Sekda DIY Drs K Baskara Aji mengungkapkan, sebetulnya sejumlah upaya sudah dilakukan Pemda DIY untuk mengatasi persoalan sampah di TPST Piyungan. Namun karena persoalan yang dihadapi cukup kompleks, hasilnya belum bisa optimal. Karena tempat penampungan sampah yang saat ini ada, setiap hari volumenya akan bertambah.

Sementara kondisi truk yang membawa sampah tidak berbentuk dump truck, sehingga saat dilakukan pembongkaran membutuhkan waktu lebih lama yang berdampak terjadinya antrean di sekitar TPST Piyungan. Untuk mengurangi antrean panjang, pihaknya mengimbau agar pembuangan sampah menggunakan dump truck supaya waktunya bisa lebih singkat. Pemda DIY dalam hal ini Dinas PUP ESDM pada tahun 2020 juga berencana membangun jalan yang sejajar dengan jalan yang sudah ada sekarang.

“Saat hujan biasanya truk tidak bisa masuk terlalu jauh, karena kondisi jalanan becek. Akibatnya banyak sampah yang menumpuk di pinggiran. Kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi, salah satunya sejak dari rumah tangga sebaiknya sudah dilakukan pemilahan sampah. Dengan adanya pemilahan sampah tersebut diharapkan bisa mengurangi jumlah sampah yang dibuang di TPST Piyungan,” ujar Baskara Aji.

Sekda DIY menambahkan, persoalan sampah menjadi salah satu program prioritas penanganan bagi DIY. Salah satu bentuk keseriusan itu, Pemda DIY tengah menunggu investor dengan skema Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Nantinya investor tidak hanya memikirkan aspek ekonomis tapi juga sosial.

Dengan adanya KPBU, tidak sekadar menyelesaikan sampah baru. Tetapi, kapasitas sampah dengan volume mencapai 600 ton perhari juga harus diselesaikan. (Roy/Ria)

BERITA REKOMENDASI