Sidang Penggelapan Diwarnai Aksi Walkout

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Sidang pembacaan dakwaan perkara penggelapan taksi online dengan terdakwa ES warga Dusun Krapyak Kulon Panjangrejo Pundong Bantul di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Senin (05/11/2018) batal dilakukan. Pasalnya tim penasihat hokum terdakwa melakukan aksi walkout saat majelis hakim memerintahkan jaksa Healy Muliawati SH untuk membacakan dakwaan.

Direktur LKBH Pandawa, Thomas Nur Ana Edi Dharma SH didampingi Pembina Mohamad Novweni SH serta penasihat hukum lain Susmartono Ariwibowo SH, Wilpan Pribadi SH MH, Kiki Mintoroso SH MH dan Fransiska Maharani SH menyatakan, aksi walkout tim penasihat hukum karena proses peradilan yang dijalani terdakwa merupakan peradilan sesat. Selain itu tim penaishat hukum menilai ada indikasi PNBantul telah membunuh rasa keadilan bagi terdakwa dengan gugurnya permohonan praperadilan penetapan status tersangka ES akibat sebelum sidang praperadilan digelar, sidang dengan materi pokok sudah digelar di PN Bantul.

Padahal pendaftaran sidang praperadilan tim penasihat hukum dilakukan lebih dulu dibandingkan pendaftaran sidang dengan materi pokok perkara oleh jaksa. “Kita telah mendaftarkan praperadilan ke PN Bantul pada Senin 22 Oktober 2018 dan mendapatkan jadwal sidang pada 6 November 2018. Sedangkan pokok perkara baru didaftarkan pada 30 Oktober 2018 namun justru dijadwalkan pada tanggal 5 November 2018. Ini jelas ada ketidakadilan yang dilakukan PN Bantul,” ujar Thomas usai mengelar aksi walkout.

Selain itu Thomas menilai kejadian tersebut tidak masuk akal karena PN Bantul yang menerima dua pendaftaran perkara dengan satu subyek yang sama namun seakan menjadi hakim dan memutus bersalah kepada terdakwa. Dengan begitu bila sidang pokok perkara sudah dilaksanakan jelas akan menggugurkan gugatan praperadilan.

Dari kejadian tersebut, tim penaishat hukum terdakwa akan melaporkan masalah ini ke Mahkamah Agung hingga Komisial Yudisial agar kliennya mendapatkan keadilan. Apalagi ada kasus lain terkait dengan kasus yang menimpa terdakwa kini tengah diselidiki Polres Kulonprogo dan pihak terlapor masuk DPO.

Sementara Mohamad Novweni menambahkan, perkara ini berawal ketika kliennya yang berprofesi sebagai sopir taksi online sedang membawa penumpang yang diketahui bernama Rendi pada 18 April 2018. Saat itu penumpang yang terkesan sangat akrab dan supel tersebut meminta kliennya untuk mampir makan di salah satu rumah makan di Kabupaten Kulonprogo.

Ketika tengah berbincang sambil makan, penumpang minta izin meminjam mobil untuk keperluan sebentar dan akan segera kembali. Awalnya terdakwa tak curiga dan kunci diberikan kepada penumpang. Setelah ditunggu lama penumpang tak kembali dan baru sadar mobil dibawa lari.

Terdakwa pun memberitahukan kejadian tersebut kepada pemilik mobil, Novitasari yang tak lain tetangganya sendiri. Saat itu terdakwa diminta lapor ke Polres Kulonprogo. Tetapi pemilik mobil yang dibawa kabur Rendi justru melaporkan ES ke Polres Bantul pada 30 April 2018 dengan pidana penggelapan. Dari laporan terdakwa baru diperiksa sekali oleh penyidik kemudian pada 18 September 2018, terdakwa ES ditangkap di rumhnya dan langsung ditahan hingga diajukan di persidangan.

Sementara, Humas PN Bantul Koko Riyanto SH mengatakan bahwa sidang pokok perkara yang digelar hari ini sudah sesuai dengan jadwal yang disusun panitera. “Setiap pengajuan perkara yang masuk sudah kita susunkan jadwalnya, termasuk dari tim pengacara dan jaksa penuntut umum. Sidang pokok perkara dan permohonan praperadilan dengan terdakwa ES sudah dijadwalkan dengan Ketua Majelis Hakim yang berbeda,” jelasnya. (Usa)

 

BERITA REKOMENDASI