Syawalan Seni di Rumah Budaya Tembi, Ajang Silaturahmi Lintas Seniman Yogya

Editor: Agus Sigit

GELARAN Syawalan Seni bertajuk ‘Tebarkan Benih Seni, Damai dan Sucikan Hati’ yang digelar di Rumah Budaya Tembi Jalan Parangtritis Km 9,5, Timbulharjo Bantul, diikuti lintas seniman sastra, musik dan perupa Yogya.

Karena sebagai ajang silaturahmi dan membangun kebersamaan lintas seniman selain menanampilkan pentas musik, puisi dan pameran seni rupa. Pameran seni rupa yang memajang karya lukisan dan tiga dimensi/ seni instalasi.

Untuk pameran seni rupa berlangsung hingga Rabu, 18 Mei 2022.

Menurut Ketua Panitia Imam B Rastanagara, pentas seni yang digelar pembukaan pameran Rabu (11/5) menampilkan Tara Noesantara bersama Nunung Rieta dan Ari Tejo (pemain siter), membawakan penggalan naskah ‘Kidung Selir’ karya Nunung Rieta dengan memadukan pembacaan dan gerak tari.

Doni Haryo membawakan tiga lagu. Kemudian dua lagu merupakan karya Doni Haryo sendiri berjudul ‘Satu Moyang’ dan ‘Sudut Desa’. Sedangkan satu komposisi lagu yang dibawakannya adalah karya Sawung Jabo, berjudul ‘Penari Jalanan’. Tak ketinggalan Ana Ratri membawakan puisi karyanya berjudul ‘Selimut Untukku’ yang secara spontan diiringi petikan gitar oleh Doni Haryo. Grup KOMPAK membawakan komposisi lagu berjudul ‘Anak Bajang’ dan ‘Hong’.

“Kemudian Coffee Faith memainkan musik instrumen jenis musik lebih ke noise dengan alat elektronik,” papar Imam, yang juga ikut pameran seni rupa pula.

Dikatakan Imam, untuk pameran seni rupa perupa diikuti puluhan perupa Yogya. Mereka Adik Kristiantoro, Adil Husni, Agus Calavera, Asih Shintawati, Arieza Icha, Brilian Arif ‘Baweb’, Huda Desember, Iwan Gunawan, Joko ‘Gundul’ Sulistiono, Lilik Setiawan, Lucky, Mamox Rino, Muchlis TA Wibowo, Merlina AP, Miko Jatmiko, Muhamad Muaz Giras, Ning Edi Wibowo, Romo Petrus, Wahyu Prasetyo Bagio, Warindi, Yanz Haryo Darmisto, Akmal Jaya, Galang Nuari dan Kelompok Kadang Kebo serta Kelompok Pelangi.

AC Andre Tanama, sebagai penulis mengungkapkan, bahww Syawalan sebagai rangkaian dari Hari Raya Idul Fitri, ada lebaran, juga memuat tradisi saling memaafkan lahir dan batin, leburan segala kesalahan, maka ada luberan, kelimpahan rezeki, berkat, dan laburan memutihkan jiwa dan pikiran (diri) kita. Sehingga, semua pun setara, kembali ke nol dan masih dalam kebhinekaan, keberagaman yang saling menghargai dan menyapa. Keberagaman seni pun muncul, baik itu seni pertunjukan berupa musik, puisi, pantomim dan sulap, serta pameran seni rupa. Ada keberagaman yang saling menyapa, pula kebersamaan yang bersahaja dalam berbagai karya-karya. Seniman Malioboro, Cah Sewon (istilah yang kerap saya pakai untuk menunjuk orang yang pernah kuliah di ISI Yogyakarta), serta teman-teman lain di sini semua menjalin silaturahmi seni melalui bahasa ungkapnya masing-masing.

Dony Haryo dengan musik balada, Skata dengan musik eksperimental, dan Komunitas Pantai Kidul dengan kompaknya mengolaborasi berbagai instrumen untuk menampilkan musik yang apik. Ada pula, lagu puisi yang ditampilkan oleh Ana Ratri dan Yoyok, serta Tara Noesantara yang membawakan puisi dengan gerak tari dan iringan musik tradisi. Komunitas Paseduluran Malioboro, Komunitas Barbaradoz Art Familia, dan seniman-seniman lain yang berkarya dan berkesenian bersama akan memantik energi positif. Energi tersebut diharapkan dapat menginspirasi bahwa seni, seniman, dan kesenian itu seyogyanya adalah inklusif. Para seniman di Rumah Budaya Tembi (Bantul) ini melakukan Syawalan Seni juga sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan.

Acara ini juga merupakan silaturahmi, yang juga saling bermaaf-maafan, saling mendoakan untuk menjalani kehidupan damai antar sesama. Awal yang baik untuk selanjutnya bisa membawa karya, pesan, dan pemaknaan yang menyebarkan kebaikan pula. Apabila ada di antara teman-teman seniman yang tidak bisa mudik, jauh dari keluarga atau sanak saudara di kampung halaman, maka sebagai sesama pelaku seni teman-teman di sini pun bisa menjadi kawan yang ramah. Lebih dari itu, dapat dianggap sebagai keluarga juga. Kendati tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran kerabat asli, minimal mampu menemani dan sebagai ‘keluarga kedua’.

“Syawalan Seni yang menghimpun para pelaku seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan ini, bisa menguatkan tali silaturahmi antar seniman lintas bidang,” kata  AC Andre Tanama. (Cil)

BERITA REKOMENDASI