Tinggi, ‘Prevalensi’ TBC di Kota Yogya dan Gunungkidul

BANTUL, KRJOGJA.com – Harus diakui, sampai sekarang belum semua peduli dengan penyakit Tuberculosis (TBC). "Tentu ini menjadi keprihatinan tersendiri. Maka kalau ada gerakan bersama pengendalian TBC, apalagi dilakukan anak atau siswa dalam program Pelajar Agen Pencegah dan Pemandu/Pandu TBC perlu didukung," ujar dr Endang Sri Rahayu saat membuka Pelatihan Pandu TBC di Gedung Grha Pustakatama, Jalan Raya Janti, Banguntapan, Bantul, Sabtu (20/07/2019). 

Hadir dan memberi sambutan Dra Hj Yuli Setyo Rini MSc (Direktur Poltekkes Bhakti Setya Indonesia/BSI Yogyakarta), Windadari Murni Hartini SKM MPH (Ketua Panitia sekaligus Ketua Tim Peneliti), Agus Trimadi SIP MAcc (Pengembang SDM Sekolah Dasar  Dinas Pendidikan Kota Yogya), Imron Mawardi SKM MKes  (narasumber dari RS Paru Respira) dan Andrias Feri Sumadi ST MM (Wadir 2 Poltekkes BSI Yogya).

Menurut Endang Sri Rahayu, selaku Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasj Dinas Kota Yogyakarta, kepedulian harusnya menjadi gerakan bersama, pemerintah juga masyarakat. "Adik-adik siswa SD menjadi Pandu TBC ini akan efektif untuk melakukan edukasi teman sebaya," ujarnya. 

Alangkah baiknya, pengendalian penyakit TBC dilakukan serentak dan masif. "Siswa bisa menjadi agen perubahan untuk menggerakan hidup sehat, apalagi yang dipilih ini, anak-anak telah jadi dokter kecil. Lebih efektif dan efesien," tuturnya.

Sedangkan Windadari Murni Hartini MKes MPH bersama anggota tim peneliti Ismiyati MSc Apt ,  keduanya dosen Poltekkes BSI Yogyakarta menyebutkan, penyakit TBC memegang peranan penting pada angka kesakitan dan kematian pada infeksu saluran pernafasan karena sifatnya penularannya. Khusysnya di Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia sesuai data WHO Global TBC Report 2016. "Prevalensi penyakit TBC di DIY paling banyak terdapat di Gunungkidul (64/100.000 penduduk) dan Kota Yogyakarta (63/100.000 penduduk). 

'Prevalensi' itu adalah proporsi dari populasi yang memiliki karakter tertentu dalam jangka waktu tertentu, baik penyakit atau faktor risikonya.

Ditegaskan Windadari Murni Hartini, secara umum kasus TBC hanya dievaluasi pada populasi dewasa, pada TBC anak terjadi lebih dari 20 persem dan seluruh kasua di banyak negara yang memiliki insiden TBC tinggi. Penularan penyakit TBC pada anak sebagai akibat kontak penderita TBC dewasa lebih besar atau bukan sebagai sebab penularan ke populasi. 

Hal ini karena pada anak kondisi penyakit lebih sering sangat sulit dideteksi baik dengan pemeriksaan 'sputum', kultur dan uji molekul. "Apabila penyakit TBC tidak terdeksi dan tidak diobati, anak akan berisiko tinggi mengalami kematian," tandasnya. (Jay)

TBC

BERITA REKOMENDASI