Tumpang-Tindih Penerapan E-Learning

BANTUL, KRJOGJA.com – Kalau diamati sampai sekarang, penerapan e-learning dengan online learning terjadi tumpang-tindih. E-learning sebenarnya pembelajaran yang menanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. 

"E-learning itu sendiri, suatu terminologi yang memiliki spektrum dan para ahli mendefinisikan secara bervariasi," ujar Dr Uwes A Chaeruman MSi, Kepala Sub Direktorat Pembelajaran Khusus, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristek Dikti saat memberi Workshop Penggunaan Literasi Digital dalam Pembelajaran Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS). Kegiatan tersebut  diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD di kampus 4, Ringroad Selatan, Selasa (09/07/2019). Workshop dipandu Irvan Budhi Handaka MPd (Ketua Tim PDS FKIP-UAD).

Menurut Uwes, menggunakan teknologi untuk meningkatkan proses pembelajaran bukan hanya sekadar belajar tentang bagaimana menggunakan perangkat keras dan lunak tertentu, tapi memerlukan suatu pemahaman prinsip-prinsip pedagogik. "Khususnya menggunakan teknologi pembelajaran," ujarnya. Dalam era informasi dewasa ini, pendidikan menghadapi tantangan berbeda dengan era industri. Tantangan pendidikan abad ke-21 membangun masyarakat berpengetahuan. 

Mengacu pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya ciri khas masyarakat abad ke-21, yakni memiliki keterampilan melek media dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), memiliki keterampilan berpikir kritis dan sistemik, memiliki keterampilan berkomunikasi efektif. Selain itu, memiliki keterampilan bekerjasama secara kolaboratif. "Guru, memainkan peranan penting dalam membangun keterampilan abad ke-21 dengan cara menerapkan konsep e-learning," ucapnya.

Uwes mengamati, e-learning yang sesungguhnya pemanfaatan TIK yang relevan sehingga memungkinkan proses pembelajaran berpusat pada siswa. "Guru lebih berperan sebagai fasilitator, mentor, pelatih, teman belajar dan siswa berperan sebagai partisipan aktif," tandasnya. Penghasil pengetahuan, pemecah masalah serta berbagai pengetahuan sebagaimana layaknya seorang ahli/pakar. Dalam konteks pembelajaran, ada dua pendekatan yang dapat digunakan guru. Pendekatan itu, pendekatan tema dan pendekatan softwere. 
Dari sisi strategi pembelajaran, beberapa metode disarankan untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan, resources-based learning, case/problem resources-based learning, simulation-based learning dan collaborative-based learning. (Jay)

BERITA REKOMENDASI