UAD Gelar Diskusi ‘Diskursus Multikultural di Indonesia’

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRJOGJA.com – Toleransi seharusnya terus dipelihara dan dikembangkan di tengah multikultural atau keberagaman. Kenyataan yang terjadi justru muncul ancaman penyeragaman dan intoleransi. Padahal keberagaman di Indonesia adalah keniscayaan.

Demikian ditegaskan Arif Rahman MPdI, Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat memberi pengantar Seminar Nasional dan Launching Buku 'Diskursus Multikultural di Indonesia' di Islamic Center UAD, Ringroad Selatan, Bantul, Sabtu (4/1/2020).

Seminar dan diskusi buku dibuka Farid Setiawan MPdI selaku Kaprodi Pendidikan Agama Islam/PAI-UAD dengan moderator Yazida Ichsan MPdI. Seminar dan diskusi buku menghadirkan narasumber Arif Rahman MPdI, Febritesna Nurani MPd (dosen PG-PAUD-UAD), Bustanul Arifien Rusydi MH (dosen UIN Sunan Kalijaga), Unik Hanafiah Salsabila MPdI (editor buku dan dosen PAI-UAD), Farid Setiawan MPdI dan Mulyawan (mahasiswa PAI-UAD).
 
Menurut Arif Rahman, buku 'Diskursus Multikultural di Indonesia, Suatu Pendekatan dan Kritik Sosial' ditulis 90 mahasiswa PAI-UAD semester 5 pengambil mata kuliah Multikultural. "Multikultural di Indonesia banyak problem. Yang mencuat ke permukaan soal intorelaransi dan penyeragaman," ujar editor buku ini. Arif Rahman  berpandangan, penyeragaman itu seperti mengingkari kemajemukan. "Biarkan keberagaman itu terjadi. Beragaman itu indah, seperti kerudung maupun baik, beragam corak dan bentuknya," ucapnya.

Ditambahkan Arif Rahman, pemahaman keberagaman di Indonesia itu juga perlu disampaikan, diaplikasikan sejak dini pada anak-anak, beragam dari suku, agama, ras dan antargolongan.
Sedangkan Farid Setiawan dalam sambutan dan diksusi mengatakan, inisiasi dari Prodi PAI-UAD dengan terbitnya buku ini sebenarnya proses pembelajaran bersama.

"Wacana dan dialektika tentang multikultural terus berkembang dari generasi ke generasi," ucapnya.

Apalagi tantangan bagi PAI sangat berat. Mata kuliah seperti Multikultural menghendaki/diharapkan, ada luaran atau produk nyata, seperti buku. Pada bagian lain, Farid Setiawan menyebutkan, munculnya konflik sosial, agama, rajutan kemanusiaan dan sosial di masyarakat mulai memudar.
   
Melihat realitas ini, tentu tidak bisa tinggal diam. Adanya keragaman sosial-ekonomi-budaya-politik   harus dijaga sejak awal, konflik-konflik dicari solusinya agar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap harmoni. (Jay)

 

 

 

UAD

BERITA REKOMENDASI