Udi Mulyanto Potlot, Cetak Calon Juara Merpati Kolongan dari Trah Jawara Lapangan

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Hobi memelihara burung merpati kolong kini digandrungi warga Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satunya adalah Udi Mulyanto Potlot (49) warga Banyon RT 71, Pendowoharjo, Sewon, Bantul.

Ayah dua orang anak ini menurutkan kisah inspiratifnya. Saat ini, Udi telah memiliki 8 pasang merpati player atau 50 ekor merpati di kandangnya yang dibangun di samping rumahnya.

Selain kerap meraup rupiah dari lomba-lomba merpati, Udi juga berternak. Hasil ternak itu melahirkan merpati-merpati juara dari kandangnya. Burung-burung juara hasil ternakanya dijual mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta.

Pembelinya tidak hanya dayang dari warga Yogyakarta, tapi juga berbagai wilayah seperti Jawa Tengah dan Jakarta. Bahakan atlit voli nasional seperti Antho Bertiawan juga mengambil merpati ternakan Udi Potlot.

Maka tidak heran, Jutaan rupiah masuk sakunya setiap menjuarai turnamen ketangkasan merpati. Kendati demikian, kesuksesannya berternak merpati yang diberi ‘Potlot GM’ ini diraih tidak semudah membalikan tangan.

Udi mengaku hobi bermain merpati kolong dan mulai menekuninya sejak tahun 2007 silam. Berawal dari sering melihat perlombaan merpati kolong, yang ada di Lapak Santan Diponegoro, Pajangan Bantul.

“Sebenarnya kalau suka merpati sejak kelas 3 SD. Kebetukan kakak saya juga suka merpati tapi ‘tomprang’. Dulu Lapak Santan, merupakan lapak satu-satunya yang ada,” ucap Udi.

Ia mengingat tonggak penting dalam perjalanan hobinya ialah saat membeli sepasang merpati seharga Rp 1,7 juta bernama Welmuno bersama istrinya. Welmuno saat itu milik orang lain menjadi juara 1 di Lapak Jetak, lalu dibeli.

Karena cintanya pada merpati kolong, pemilik merpati bernama Cinta Fitri (CF) ini lalu membuat kolong sendiri tidak jauh dari rumahnya bernama ‘Komuba’. Tapi karena lokasinya kurang bagus, hanya berlangsung selama 3 tahun.

“Karena tempatnya kurang bagus. Kemudian tahun 2011, lapak saya pindah di Banyon. Saya beri nama lapak Limbah Banyon. Saat itu merpati andalan saya bernama ‘malaikat kecil’ dengan koleksi 30 piala,” kata Alumni Gajah Mada ini.

Kemudian, bersama Jajat Santoso, Agung Bintang Joglo, Heru Arjuna, Totok GA. Hendrik Bocah Edan, Edi Troopi, Taufik Suryanta dan Bram Jasmine, tahun 2011 mulai mendirikan kelompok ‘Pecinta Merpati Kolong Jogja’ (PMKY).

Sejak saat itu, ia mulai aktif bermain merpati kolong meski peminatnya masih sedikit. “Dari merpati juara yang saya beli itu, saya sering menang. Uang hadiah juara saya putarkan lagi, sampai sekarang bisa berternak juga,” ujarnya.

Bersama teman-temanya, Udi mulai berfikir agar hobinya tersebut mempunyai payung yang menaunginya. Akhirnya pada tahun 2012, PMKY berganti nama menjadi Paguyupan Merpati Kolong Yogyakarta (PPMKY).

Setelah sering menjuarai turnamen dan membibitkan merpati-merpati juara, Udi merasa hobi itu ialah bakat dan panggilan jiwa. Udi dan teman-temanya sesama pecinta merpati kolong, mulai mengadakan perlombaan.

“Bagi saya cinta merpati, karena satu-satunya makhluk ciptaan tuhan yang tidak punya empedu. Empedu kan menyimpan kepahitan, sehingga merpati tidak punya dendam. Merpati mengajarkan kita untuk tidak dendam dengan orang lain,” kata seniman airbrush ini.

Hari ini, Udi boleh berbangga karena menjadi salah satu pemain penting dari pemain dan peternak merpati kolong di Yogyakarya. Deretan piala nangkring tersimpan rapi di rumahnya yang dihasilkan dari merpati peliharaanya.

Seperti hobi yang lain, kata Udi, ada juga suka-duka yang dirasakan dalam menggeluti hobi merpatinya tersebut. Salah satunya kehilangan merpati kesayangan akibat mati karena sakit atau kecelakaan saat bertanding.

“Ada burung saya, yang sudah di tawar mahal tapi malah hilang saat di buat main. Ada juga yang mati. Sedih banget, soalnya sudah kayak keluarga sendiri,” tutur salah satu perintis berdirinya PPMKY ini.

Duka lainnya, pernah dia rasakan selagi awal menekuni hobinya ini. Sebagian orang, menganggap hobinya tidak berfaedah, terlebih sering mengganggu pekerjaan utama bahkan di cemooh orang lain.

“Saya dulu pernah diketawain orang saat memasang pamflet perlombaan merpati kolong di pasat Ngasem Yogya. Tapi ngak papa, itu saya anggap sebagai perjalanan,” ucapnya.

Melihat tren positif popularitas hobi merpati kolong di Indonesia khususnya Yogyakarta, Udi semakin yakin dengan hobi yang digeluti. Dia berharap suatu hari hobi ini tidak lagi dipandang sebelah mata. (Shn)

BERITA REKOMENDASI