UMY Kembali Berikan Keringanan Biaya Kuliah di Masa Pandemi

Editor: Agus Sigit

BANTUL, KRjogja.com – Beragam program khusus digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada masa perkuliahan di era pandemi. Seperti pada semester ganjil tahun akademik 2021/2022 ini, UMY memberikan keringanan biaya kuliah melalui pemotongan Sumbangan Pembinaan Pendidikan Tetap (SPP Tetap) serta biaya listrik bandwidth dan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK).

“Kita mulai sejak pandemi berlangsung, pandemi itu mulai Maret 2020. Artinya mahasiswa sudah membayar SPP semester genap pada bulan Februari. Jadi waktu itu bantuan yang kita lakukan berlangsung 3 bulan dengan bentuk bantuan subsidi pulsa Rp 150.000 per bulan. Kemudian yang kedua, bantuan sembako untuk mahasiswa yang tidak bisa mudik, dibagikan secara drive thru di Sportorium sebanyak 12.000 paket sembako. Lalu kami juga menyediakan takjil puasa pada tahun 2020 dan lanjut lagi mahasiswa mendapatkan pemotongan SPP 22% – 30% terhitung dari jenis mata kuliah,” ungkap Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM selaku Rektor UMY saat diwawancarai secara daring Rabu (28/7).

Fahmi Hakim, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY menyatakan dengan adanya pemotongan biaya SPP tetap dan biaya yang lainnya itu sangat membantu mahasiswa secara umum dan mahasiswa kurang mampu secara khusus. Oleh karena itu, dengan adanya pemotongan biaya ini sangat berpengaruh dan meringankan beban para mahasiswa dan orang tua,

Kebijakan keringanan biaya kuliah UMY mengundang pro dan kontra, sebagian mahasiswa kontra terhadap kebijakan tersebut dengan alasan pemotongan SPP Tetap dinilai tidak mewakili dari total biaya yang harus dibayarkan. Faktor lain, mereka yang kontra menganggap biaya mata kuliah seharusnya pun dipotong secara perkuliahan diselenggarakan secara online.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM menyampaikan bahwasannya kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus sudah diperhitungkan secara matang-matang. Menurutnya kampus tidak dapat memotong biaya kuliah hingga 50 % dengan alasan kampus pun menganggarkan biaya kuliah untuk para penerima beasiswa dan kebutuhan lain seperti bantuan obat bagi mahasiswa yang isolasi dan bantuan subsidi kuota internet. Sehingga kebijakan keringanan biaya kuliah, tidak serta merta dikeluarkan begitu saja.

Rektor UMY mengungkapkan strategi pembiayaan perkuliahan yang diterapkan di UMY yaitu dengan skenario online-offline, skenario tersebut mempengaruhi pemotongan biaya kuliah pada masing-masing program studi. Ia menjelaskan untuk mahasiswa eksakta seperti mahasiswa pertanian dan mahasiswa kedokteran mendapatkan potongan biaya lebih kecil, karena mereka menyelenggarakan praktikum secara offline.

Praktikum yang diselenggarakan secara offline tentunya disiapkan dengan protokol kesehatan. “Karena mereka harus praktikum langsung ya, jadi yang dulunya sekali masuk 30 orang sekarang 15 orang, karena kan harus jaga jarak. Sehingga penyelenggaraan praktikum yang biasanya 3 bulan selesai sekarang menjadi 5 bulan. Oleh karena itu secara pukul rata mahasiswa  eksakta hanya menerima keringanan sekitar 22 % ,” jelasnya.

Pembebasan biaya UKK tidak mempengaruhi kegiatan mahasiswa, di masa pandemi mahasiswa tetap dapat menyelenggarakan kegiatan walaupun kampus membebaskan biaya anggarannya.

“Tetap jalan kegiatan mahasiswa, 2020 itu prestasi mahasiswa UMY masuk ke dalam 14 besar perguruan tinggi. Sekarang UMY kan 10 besar Perguruan Tinggi Nasional, urutan ke 3 PTS Nasional dan urutan ke 1 PTS Jateng-DIY. Dari situ kan kita bisa melihat bahwa prestasi mahasiswa tidak berkurang,” tambahnya.

 

Shahara Imara Id’ha

(Mahasiswi Komunikasi dan Konseling Islam – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

 

BERITA REKOMENDASI