Warga 1 Kampung Kompak Menolak, Pembangunan Pengolahan Sampah Terganjal

Editor: KRjogja/Gus

PIYUNGAN, KRjogja.com – Rencana pemerintah DIY meluaskan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul disisi barat Dusun Ngablak Kalurahan Sitimulyo Kapanewon Piyungan menyulut polemik. Sebenarnya masyarakat Ngablak tidak keberatan TPST Piyungan diperluas, tetapi ke utara menyambung dengan TPST yang sudah ada. Sejauh ini dua kali warga dikumpulkan di Kalurahan Sitimulyo mengikuti sosialisasi, namun penolakan justru makin kuat.

“Sudah dua kali warga dikumpulkan di Kalurahan untuk sosialisasi, pertama hanya perwakilan dan semua menolak. Pertemuan kedua hasilnya sama seluruh warga Ngablak menolak jika lahan yang berada di RT 3, RT 4 dan RT 5 entah digunakan untuk pengolahan, pembuangan, pemrosesan sampah,” ujar tokoh masyarakat Ngablak, Maryono dalam pertemuan warga di Dusun Ngablak, Selasa (18/5). Dalam pertemuan itu juga dihadirj perwakilan warga dari 5 RT di wilayah itu.

Maryono mengungkapkan, ketika lahan sisi barat dusun dipakai untuk aktivitas terkait dengan sampah apapun yang terjadi warga menolak. Karena selain dekat dengan pemukiman, kawasan tersebut juga lahan hijau. Sebenarnya Maryono dan warga lainnya tahu, jika pemilik lahan yang diincar untuk perluasan tersebut dari luar Ngablak. Tetapi jika program tersebut terealisasi, warga Ngablak paling kena imbasnya.

Terpisah Lurah Sitmulyo Kapanewon Piyungan, H Djuweni mengatakan, memang benar pemerintah DIY membangun tempat pengolahan sampah. Karena lokasi untuk pembuangan sekarang ini juga sudah tidak ada. Tetapi warga menolak, dan menghendaki lokasi untuk pengolahan tetap dekat TPST Piyungan. “Dari pemerintah DIY menghendaki disisi barat, sedang warga mau didekat TPST,” jelasnya.

Djuweni mengungkapkan, warga sejak awal teguh pada pendirian tidak mau lahan disisi barat digunakan untuk mengolah sampah. Terkait tahapan, Djuweni tidak mengetahui karena dari desa sama sekali tidak dilibatkan. Selain itu berapa jumlah petak lahan yang sudah beli pihaknya Kalurahan Sitimulyo juga tidak tahu. “Dari info rombongan makelar ada tiga atau empat warga terbeli, pastinya dari kalurahan tidak tahu,” jelas Djuweni. (Roy)

 

BERITA REKOMENDASI