Warga Tuna Netra Paling Terdampak Covid-19

Editor: KRjogja/Gus

RAUT muka Slamet Riyadi (50), warga Mancingan Parangtritis penyandang tuna netra tak dapat menahan haru ketika Tim SKH Kedaulatan Rakyat mendatangi Sekretariat Pengurus Daerah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Cabang Bantul di Dusun Priyan Trirenggo Bantul, Senin (23/11). Ia dan beberapa teman senasib terharu karena setelah sekian lama ia dan keluarga bertahan hidup dengan berhemat (ngirit), akhirnya mendapatkan sedikit bantuan untuk bertahan hidup.

“Kami hidup dari uang yang sangat pas-pasan. Bagaimana tidak selama pandemi Covid-19 penghasilan saya sebagai tukang pijat (massage

) anjlok. Sebelumnya rata-rata pasien pijat antara 70 hingga 100 orang perbulan. Namun sekarang selama pandemi sebulan dapat 10 pasien sudah sangat bersyukur. Sementara saya punya anak yang tetap harus bertahan hidup dan bersekolah. Solusinya ya harus diirit-irit, dijereng-jereng

supaya cukup,” ujar Slamet.

Senada, Koordinator Pengurus Daerah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Cabang Bantul, Supriyati juga mengaku hal serupa. Namun ia masih bersyukur dibandingkan rekan lain karena saat ini ia berstatus sebagai GTT di SLB kawasan Pundong.

“Meski gaji GTT tidak seberapa, namun yang jelas masih ada pemasukan. Selain GTT saya juga sorenya buka praktik pijat khusus perempuan dan sejak awal pandemi sampai saat ini masih sepi. Yang terjadi saat ini pendapatan yang kami peroleh jauh lebih kecil dari pengeluaran yang harus kami keluarkan untuk mencukupi kebutuhan,” keluhnya.

Dengan adanya bantuan pembaca KR diharapkan dapat menghemat anggaran membeli kebutuhan pokok.
Beberapa rekan tuna netra yang sebelumnya menjadi tukang pijat akhirnya beralih menjadi perajin anyaman ternak dan reparasi payung.

BERITA REKOMENDASI