Wonolelo Merintis Desa Berbasis Teknologi

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Desa Wonolelo yang berada di Kecamatan Pleret Bantul merintis untuk menjadi desa berbasis teknologi. Dengan program tersebut ditargetkan dalam empat tahun kedepan Wonolelo mampu menjadi desa penyangga kota.

Kepala Desa Wonolelo, Ahmad Furqon menyampaikan sebenarnya banyak potensi yang dimiliki wilayahnya, namun semua itu belum tergali secara maksimal. Potensi besar yang ingin digarap Wonolelo yakni sektor wisata dan usaha kecil yang dilakukan masyarakat.

"Kendala utama ada pada keterbatasan pengetahuan dan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu kami mulai menggandeng beberapa pihak termasuk perguruan tinggi untuk bersama membangun Wonolelo," ungkap Ahmad Furqon dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat bersama Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) di balai desa serempat, Minggu (31/03/2019).

Sektor wisata yang saat ini menjadi unggulan Wonolelo yakni Puncak Pogok yang terletak di Dusun Purworejo. Dari puncak ini wisatawan dapat menikmati pemandangan Yogyakarta dari ketinggian.

Adapula bumi perkemahan (buper) Wonolelo yang selama ini selalu menjadi rujukan beberapa sekolah di DIY untuk kegiatan Pramuka. Selain itu potensi usaha milik masyarat yang cukup menonjol seperti mebel, kerajinan pembuatan tangan tas hingga produksi rambak kulit.

"Dengan pengembangan digitalisasi nantinya kami bisa memperkenalkan potensi yang ada maupun memasarkan produk-produk melalui internet. Untuk mewujudkannya kami memerlukan transfer pengetahuan agar masyarakat kami dapat mengerti teknologi informasi," terangnya.

Sementara itu Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Unriyo, Hamzah ST MT mengatakan pemberdayaan masyarakat di Desa Wonolelo ini merupakan bagian dari Dies Natalis ke-10 Unriyo. Dipilihnya Wonolelo karena desa ini memiliki potensi besar yang bisa dikembangkan untuk memajukan kawasan pedesaan.

"Tujuannya yakni untuk menerapkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat sesuai fakultas masing-masing. Kami melihat di Wonolelo ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan lebih baik lagi," kata Hamzah yang juga sekaligus ketua dies natalis.

Dalam pemberdayaan masyarakat kali ini dilakukan pula pengobatan bagi warga, simulasi bencana dan juga pelatihan pemasaran. Kegiatan ini melibatkan aparatur pemerintah desa, warga dan para anggota karangtaruna serta relawan. (*)

BERITA REKOMENDASI