Yogyakarta Darurat Sampah di Sungai

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Yogyakarta darurat sampah di sungai. Realitas itu bisa dicek di sungai-sungai di Yogya, dari Sungai Gajahwong, Code, Bedog, Sungai Manunggal/Kali Mambu, Opak, sampai Selokan Mataram.

"Sampah itu sudah sampai tahap 1, 2, 3. Tahap 1 sebanyak 200 Kg, tahap 2 sebanyak 500 Kg, tahap 3 jumlahnya sudah ribuan Kg," ujar Inggita Utami MSc, dosen Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Inggita melakukan pendampingan 'Mengolah Sampah Diaper' kepada anggota-pengurus Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah PDA Kota Yogyakarta. Inggita melakukan pendampingan bersama Diah Asta Putri MSi, dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD. Inggita menjelaskan, sampah diaper sebenarnya adalah pembalut atau popok sekali pakai.

"Sampai sekarang masih ada mitos, popok yang sudah dipakai tidak boleh dibakar. Mitosnya, popok bayi kalau dibakar anaknya akan sakit. Maka yang terjadi popok itu banyak dibuang di sungai atau sekitar jembatan," ujarnya.

Realitas inilah, salah satunya yang menjadi pemicu terjadinya sampah sungai di Yogya. Menurut Inggita, penbalut maupun popok tersebut sebenarnya diolah menjadi media tanam. "Pembalut maupun popok itu sebenarnya mengandung gel yang mampu menyerap air," katanya.

Diaper saat musim kemarau sangat bagus untuk media tanam. Gel tadi dicampurkan dengan tanah. Tanaman sayuran, buah-buahan cukup di pot cukup diberi gel. Inggita sendiri sudah mencoba, di rumah menanam cabai, tomat, jeruk, sejumlah tanaman lain tumbuh dengan subur. "Selama 1 minggu tidak disiram dengan air tetap tumbuh subur dan segar," ujarnya.

Ditambahkan Inggita, bagi warga perkotaan dengan lahan sangat sempit, terbatas mengolah sampah diaper menjadi salah satu solusi mengurangi sampah. (Rdi)

BERITA REKOMENDASI