Yusman Mencatat Sejarah Dalam Patung

Editor: Ivan Aditya

MESKI awalnya berkeinginan jadi seorang pelukis, nama Yusman SSn tidak bisa dipisahkan dari perjalanan seni patung di Indonesia. Setelah eranya Edhi Sunarso, Kasman Ks, Sarpomo, dan Sumartono (para maestro seni patung Indonesia) ‘meredup’, Yusman tampil sebagai generasi penerus.

Bagi Yusman, nama-nama itu merupakan ‘guru’ sekaligus pembuka jalan bagi dirinya menapaki dunia seni patung. Meski sebenarnya, pada awal kehadirannya di Yogya tahun 1985 dari Desa Sukamenanti, Pasaman, Sumatera Barat bukan untuk menjadi pematung, melainkan sebagai pelukis.

Setelah tamat Jurusan Seni Dekorasi SMSR Negeri Padang (1985), Yusman meneguhkan tekad meneruskan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang pada masa itu masih bernama STSRI ASRI Yogyakarta. Keinginannya masuk Jurusan Seni Lukis tidak kesampaian, justru dirinya diterima di Jurusan Seni Patung. Yusman menerima ‘ketentuan’ nasib itu dengan rasa syukur.

Bagi Yusman itu merupakan ketentuan Tuhan. “Manusia berkehendak tetapi Tuhan-lah yang menentukan,” ucap Yusman kepada KRJOGJA.com Rabu (30/12/2020) di Studi Patung Yusman sekaligus kediamannya, Jalan Nur Ahmad No 53 RT 02 Dukuh V Tegal Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Yusman bertutur, sejak masih mahasiswa dirinya sering membantu para seniornya (Edhi Sunarso, Saptoto, Sarpomo, Sumartono, Suwardi, dan Kasman Ks) Pengalaman berharga bersam seniornya itulah yang mengantarkan dirinya menjadi salah seorang seniman poatung terkenal yang banyak mengerjakan monumen-monumen perjuangan bangsa yang tersebar di seluruh tanah air. Minatnya yang tinggi terhqadap sejarah kepahlawanan bangsa Indonesia menjadikan Yusman akrab dengan berbagai monumen perjuangan di tanah air.

Sejak karya monumental pertamanya, ‘Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat’ (1995) di Makassar diresmikan Presiden Soeharto, berturut-turut menyusul karya lainnya yang diresmikan Wapres Hamzah Haz (2001), Presiden Megawati Soekarnoputri (2002), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2008, 2009, 2012, 2013, dan 2014). Tak hanya itu, Yusman juga menerima penghargaan Rekor MURI pertama, yang diperoleh tahun 2010 atas pembuatan ‘Relief Monumen Panglima Besar Soedirman Terpanjang’ di Pacitan (Jatim), Rekor MURI kedua (Februari 2014) atas ‘Prakarsa dan Pembuatan Patung Berkelompok Terbesar’ pada Monumen Perjuangan Mempertahankan NKRI di Mabes TNI Cilangkap.

Sebagai seniman patung, Yusman tergolong istimewa. Karya-karya monumentalnya telah diresmikan oleh Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wapres Hamzah Haz. Tahun 2014 Yusman mendapat kepercayaan untuk mengerjakan Patung Enam Presiden RI (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono) yang dipajang di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Istana Kepresidenan Bogor.

Patung berbahan perunggu tersebut dikerjakan di studionya bersama sekitar 20 ‘karyawan’ seni dan diresmikan Presiden Susilo Bambang YUdhoyono pada 18 Oktober 2014. Bagi Yusman, bisa menyelesaikan enam patung Presiden RI tersebut sangat melegakan, karena dirinya harus memeras tenaga dan pikiran agar patung-patung yang dibuatnya benar-benar menyerupai sosok yang sesungguhnya.

“Jika orang lain sekadar mengetahui dan menikmati hasilnya, saya mewujudkan semua itu melalui proses panjang,” ujar Yusman, yang memiliki hobi olahraga bulutangkis.

Sebagai seniman patung yang cukup kesohor, tidak menjadikan Yusman kemudian jumawa melainkan justru rendah hati, tidak pernah berniat menyombongkan diri. Baginya, seniman itu bukan semata-mata
bicaranya, melainkan karya nyata yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Yusman berkeinginan suatu saat membuat Museum Patung di Yogyakarta, untuk memfragmentasikan sosok-sosok orang besar yang memiliki latar belakang ‘Keyogyakartaan’. Anak kedelapan dari sembilan bersaudara pasangan HA Menan-Hj Salamah, Yusman lahir 12 November 1964 selalu diajarkan untuk bekerja keras dan menjunjung tinggi keteladanan hidup.

Yusman juga diajari harus menjunjung dan menghargai pepatah ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Sehingga bagi Yusman, Yogyakarta tak ubahnya sebagai kota kedua setelah tanah Minangkabau.

Suami dari Murtri Yuni Arnawati dan ayah dari Rizki Nanda Yusman, Santara Deva Yusman, Wahyu Intan Purnama Tri Ambarwati, dan Salma Reno Bunsu Yusman, bertekad untuk mengabadikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia ke dalam seni patung. Tak mengherankan jika sampai saat ini institusi militer (TNI) selalu menggeret dirinya ketika hendak membuat museum-museum sebagai penanda dharma bakti TNI kepada bangsa dan negara.

Tanpa bersedia menyebut nama, Yusman mengaku selalu berkomunikasi dengan petinggi-petinggi TNI berkaitan dengan rencana pendirian Meseum TNI di beberapa wilayah di Indonesia. Meski berkutat pada disiplin ilmu seni (patung) mau tidak mau Yusman harus juga mempelajari sejarah.

Belajar sejarah itu merupakan salah satu bagian belajar mengenai peradaban manusia,” tutur Yusman. (Haryadi)

BERITA REKOMENDASI