Benarkah Cuaca Panas di Yogya Perlindungan Tak Kasat Mata Usir Corona?

YOGYA, KRJOGJA.com – 2-3 hari ini, cuaca wilayah Yogyakarta dirasakan hampir semua orang jauh lebih panas daripada sebelumnya. Hujan tak kunjung turun di tengah musim yang seharusnya penghujan ini.

Tak sedikit yang lantas mengaitkan situasi ini dengan hal mistis. Terlebih cuaca panas muncul setelah Gubernur DIY yang juga Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menyampaikan pesan terkait Virus Corona, Minggu (15/3/2020) lalu.

Masyarakat yang menganut Kejawen mempercayai, ini adalah upaya tak kasat mata dari pelindung Yogyakarta mengusir Virus Corona dari wilayah DIY. Suhu panas yang muncul dipercaya bisa mematikan virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina tersebut.

Broadcast status pesan aplikasi seseorang yang menyampaikan tak akan ada hujan 7 hari di Yogya muncul dan viral di lini masa. Banyak yang percaya namun tak sedikit yang sangsi karena berbagai alasan dimiliki. Tak salah memang karena hal tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat yang sudah diyakini dari masa ke masa.

Namun demikian, ternyata BMKG melalui Stasiun Klimatologi memiliki alasan terkait situasi suhu panas di DIY beberapa hari terakhir. Reni Kraningtyas, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta mengungkap suhu panas disebabkan dari pertemuan udara basah dan kering yang menyebabkan divergensi atau beraian dan pemanasan yang cukup tinggi.

“Banyak yang merasa kok sumuk, sampai malam hari juga demikian. Itu dikarenakan adanya pertemuan udara basah dan kering sehingga terjadi udara divergensi (beraian) dan pemanasan yang cukup tinggi, sedangkan tanah/permukaan bumi masih cukup basah sehingga udara menjadi lembab,” ungkap Reni ketika dihubungi KRjogja.com Rabu (18/3/2020).

Hal tersebut menurut Reni didukung dengan kondisi angin yang relatif tenang dalam beberapa hari ini. “Ini yang membuat kita merasa sumuk bahkan di malam hari juga,” imbuh dia lagi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI