Dihantam PPKM Darurat, Omset PKL di DIY Anjlok Hingga 80 Persen

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Seluruh Pedagang Kaki Lima (PKL) di DIY yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) semakin terpuruk karena mengalami penurunan omset yang luar biasa hingga kisaran 80 persen akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa Bali sejak 3 hingga 20 Juli 2021.
Dengan tekanan tersebut, akhirnya mayoritas PKL di DIY memilih tutup sementara daripada tetap berjualan dan berharap agar kebijakan PPKM Darurat tidak diperpanjang nantinya.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKLI DIY Mukhlas Madani menyampaikan pihaknya sangat dirugikan dengan dilaksanakan kebijakan PPKM Darurat Jawa Bali ini. Meskipun masih diperbolehkan untuk tetap berjualan, namun peraturanya justru lebih ketat dibandingkan dengan kebijakan pembatasan-pembatasan yang diterapkan sebelumnya sehingga PKL benar-benar tidak mendapatkan penghasilan.
” Kami sudah terpukul dengan adanya pandemi Covid-19, sekarang ditambah adanya penerapan PPKM Darurat menjadi sangat luar biasa terpukul dan sangat dirugikan sekali. PPKM Darurat kali ini peraturannya lebih ketat mulai jam jualan hanya sampai pukul 20.00 WIB, kapasitas hanya boleh 50 persen dan tidak boleh makan di tempat alias harus take away. Aturan inilah yang membuat omzet kami anjlok di kisaran 70 hingga 80 persen saat ini,” tuturnya, Rabu (7/7/2021).
Mukhlas mengungkapkan dampak cukup besar dialami PKL dengan waktu operasionalnya pukul 16.00 WIB hingga malam seperti angkringan maupun lesehan yang semakin terpukul dan memilih tidak berjualan. Contohnya PKL yang berada di kawasan Malioboro memilih tutup ditambah lampu penerangan jalan dipadamkan dipadamkan pada pukul 20.00 WIB di beberapa ruas jalan di DIY.
Akibat kebijakan ini pendapatan PKL di DIY selama pandemi Covid-19 sudah mengalami tekanan luar biasa signifikan dimana omzet terjun bebas hingga 80 persen saat ini.
” PPKM Darurat ini dampaknya sangat luar biasa sekali bagi pedagang kecil seperti kami. Daripada semakin merugi, setidaknya lebih dari 50 persen PKL di DIY memilih tidak berjualan selama  pandemi. Sebab jika PKL tetap berjualan malah akan tombok karena biaya operasional lebih tinggi tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh. Namun masih ada sebagian kecil yang berjualan online agar tetap bisa bertahan hidup daripada tidak ada pemasukan sama sekali,” terangnya.
Menurut Mukhlas, PKL juga merubah budaya cukup sulit dari berjualan malam hari menjadi siang hari. Selain itu, penerapan sistem layanan pesan antar untuk lesehan dan angkringan juga tidak serta merta menjadi solusi agar bisa mendapatkan tambahan  penghasilan. Sebab konsumen memilih makan di tempat untuk lesehan karena sekaligus ingin menikmati suasananya seperti di kawasan Malioboro.
” Ini menjadi ujian bagi teman-teman PKL di lapangan, jadi semoga kebijakan PPKM Darurat ini tidak diperpanjang cukup sampai 20 Juli saja,” tambahannya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI