Entaskan Kemiskinan, Optimalkan Penguatan Peran Wakaf Produktif

YOGYA, KRJOGJA.com – Penguatan peran wakaf di DIY apabila dikoordinasikan dengan baik, dikelola secara profesional dan didukung Pemerintah dapat memberikan dampak positif pada pembangunan ekonomi daerah, salah satunya mengakselerasi pemecahan masalah sosial seperti kemiskinan serta diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, program-program pengentasan kemiskinan yang disusun Pemda DIY sudah sangat banyak dan memerlukan dukungan dana di luar APBD.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menuturkan pandemi Covid-19 berdampak signifikan pada peningkatan persentase penduduk miskin DIY. Angka kemiskinan DIY saat ini mencapai 12,28 persen dari total penduduk DIY. Rasio kemiskinan di DIY jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yaitu sebesar 9,78 persen. Ketimpangan di DIY kembali meningkat, yang tercermin dari Gini Ratio yang mencapai 0,434 persen sehingga DIY ditetapkan sebagai Provinsi dengan ketimpangan tertinggi di Indonesia.

“Selama ini banyak yang belum menyadari bahwa terdapat banyak alternatif pendanaan untuk pengentasan kemiskinan, salah satunya melalui wakaf produktif. Coba kita asumsikan, jumlah tenaga kerja DIY sebanyak 2,12 juta jiwa. Andaikan 50 persen saja dari tenaga kerja di DIY bersedia tiap bulan berwakaf sebesar 2,5 persen dari pendapatan UMK sekitar Rp 45 ribu/bulan, maka akan ada potensi dana wakaf DIY sebesar Rp 578 miliar/tahun. Jumlah ini bahkan mencapai 25% dari gabungan belanja modal provinsi dan seluruh kota kabupaten di DIY,” ungkap Hilman di Yogyakarta, Minggu (27/12/2020).

BERITA REKOMENDASI