Erupsi Merapi Disertai Letusan Eksplosif 2010 Sama Seperti Tahun 1872

YOGYA, KRJOGJA.com – Gunung Merapi sebagai laboratorium alam memberikan banyak informasi penting bagi para peneliti. Kajian data pemantauan dan penelitian bermanfaat dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Dr Agus Budi Santoso mengatakan, dari sejarah pemantauan Merapi (1768-2014) diketahui ada lima tipe letusan Merapi yaitu letusan freatik, letusan vulcanian atau eksplosif dengan kekuatan menengah, tipe erupsi Merapi murni (seperti erupsi 2001 dan 2006), tipe erupsi Merapi disertai letusan eksplosif dan tipe sub-plinian atau letusan besar seperti yang terjadi pada tahun 1872 dan 2010.

Menurut Agus Budi, jika dilihat frekuensi kejadiannya, tipe letusan Merapi paling sering terjadi adalah tipe erupsi Merapi disertai letusan eksplosif. Agus Budi menjelaskan, yang dimaksud tipe erupsi Merapi adalah terbentuknya awan panas disebabkan runtuhnya kubah lava. Kemudian letusan yang sering terjadi kedua yakni letusan freatik, diikuti tipe erupsi Merapi murni, letusan vulcanian dan letusan sub-plinian.

“Yang paling sering terjadi adalah erupsi Merapi disertai letusan eksplosif tercatat sebanyak 34 kali,” terang Agus Budi dalam Webinar bertema ‘Menerjemahkan Data Merapi’, Selasa (27/10/2020) sebagai rangkaian acara peringatan Dasawarsa Merapi 2010.

BERITA REKOMENDASI