Event MICE Berdampak Nyata Bagi Perekonomian

Editor: Ary B Prass

Selanjutnya Suhendroyono menjelaskan pembatasan mobilitas menjadikan berbagai akvitas, termasuk kegiatan pertemuan, konferenesi dan pameran, diselenggrakan secara daring atau virtual. Kondisi tersebut menjadikan industri MICE terdampak karena aktivitas nyaris berhenti dan berakibat dampak pengganda terhadap ekonomi juga berkurang nyata.
“Event MICE mempunyai aktifitas turunan yang menjadikan berdampak nyata terhadap perekonomian. Kegiatan MICE berdampak langsung kepada bisnis perhotelan serta makanan minuman, di samping itu juga terkait dengan aktivitas usaha event organizer (EO), transportasi, perdagangan, hiburan, destinasi wisata, dan sebagainya,” jelas Nining Yuniarti.
 “Kegiatan MICE yang merupakan turunan kegiatan pariwisata mempunyai efek penggada yang nyata bagi perekonomian di wilayah MICE diselenggarakan,” uangkap Nining Yuniarti.
“Dalam MICE, untuk Meeting, Conference dan Exhibition (MCE) bisa dilaksanakan secara daring namun untuk Incentive (I) tentu tidak tergantikan,” jelas Tonny Hendratono.
Tonny menjelaskan kegiatan secara daring tentu tidak dapat mengggantikan secara sempurna (perfect substitution) dari aktivitas MCE, namun setidaknya kegiatan MCE tetap dapat berjalan secara terbatas. Hal lain yang tidak tergantikan adalah Incentive sehingga efek pengggandanya juga tidak sebesar aktvitas secara luring.
“DIY sangat potensial sebagai penyelenggaran event MICE”, tegas Y. Sri Susilo. Kondisi tersebut terkait dengan: (1) Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata. (2) Infrastruktur MICE di DIY cukup memadai (misalnya JEC dan The Alana Covention Center serta beberapa hotel bintang 4 dan 5). (3) Terdapat usaha EO berskala nasional. (4) Fasilitas bandara internasional. (5) Dukungan sumber daya manusia, baik dari PTN/PTS serta praktisi pelaku pariwisata dab MICE. “Yogyakarta sudah terbukti berhasil menyelenggarakan MICE baik bertaraf nasional dan internasional,” jelas Y Sri Susilo.
Webinar nasional tersebut diikuti oleh 200 peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa program diploma, sarjana dan magister STIPRAM. Di samping itu juga dihadiri oleh pelaku MICE dan pariwisata, akademisi dan pengurus/anggota ISEI dari berbagai wilayah di Indoenesia.
“Webinar bedah buku karya dosen STIPRAM ini merupakan kegiatan serial dan secara rutin akan diselenggrakan oleh STIPRAM,” tutup Bima Setya Nugraha dalam rilisnya kepada media. (*)

BERITA REKOMENDASI