Farid FSTVLST: Tiga Hal yang Tidak Boleh Ditinggalkan Ketika Membangun Brand

YOGYA, KRJOGJA.com – Vokalis band FSTVLST Sirin Farid Stevy mengungkapan dalam setiap brand yang ia lahirkan, nilai-nilai lokal yang ia yakini selalu ada di dalamnya. Selain itu, tiga hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam membuat sebuah brand menurutnya adalah idealisme, sosial dan urusan perut.

“Sebagai orang lahir dan besar di Wonosari, saya merasa banyak dibantu orang lain, saya melihat itu adalah bagian dari nilai lokal, kata kuncinya membantu orang, maka produk atau brand yang saya bangun harus punya manfaat untuk orang lain,” papar Farid Stevy, yang merupakan founder Liberates Creative Colony, yang juga dikenal sebagai perupa, desainer grafis dan musisi.

Menurut Farid, kelokalan itu bukan semata nilai-nilai besar seperti batik, tari, atau wayang. Kelokalan adalah juga nilai-nilai kecil di sekeliling kita yang mengiringi sepanjang hidup. Nilai itu yang tidak boleh ditinggalkan ketika membangun sebuah brand atau produk.

Hal tersebut disampaikan Sirin Farid Stevy, dalam Pinasthika Ontalks #2 yang mengusung tema ‘A New Cool, Local Brand Movement yang berlangsung, Rabu (24/6/2020) melalui apliasi Zoom Meeting. Hadir sebagai narasumber lain adalah Glenn Marsalim, founder MGKYM Jakarta.

Farid mengatakan, setidaknya ia melihat ada tiga point dari sebuah kreativitas yaitu membuat sesuatu, baru dan bermanfaat. “Kreatif itu adalah menciptakan sesuatu yang baru, tidak akan selesai diskursus (baru), tapi setidaknya kebaruan dalam konteks yang lebih luas,” ujar Farid yang juga pembuat brand FRDSTVY dan Goodbadprint.

Tiga point kreativitas tersebut menurut Farid juga harus memiliki tiga syarat yang tidak bisa ditinggalkan yaitu idealisme, sosial dan urusan perut.  Ketiganya harus ada ketika membangun produk. Tidak boleh ada satu yang ditinggalkan. “Misalnya urusan idealisme dan sosial terpenuhi, sementara urusan perut tidak dipenuhi, makan tinggal nunggu kabar saja brand itu tidak akan kreatif lagi, karena tidak bisa makan,” katanya.

Glenn Marsalim mengatakan, bahwa banyak cara untuk membaca kebutuhan pasar. Apa yang dilakukannya adalah dengan melihat tanda-tanda, apa yang dibutuhkan konsumen. Saat ini bisa menggunakan media sosial. “Sensitifitas di medsos itu penting, tapi tanda-tanda itu bisa buyar ketika dibenturkan dengan ego, dibenturkan dengan kebutuhan. Maka tanda-tanda itu harus dibaca dengan pikiran yang jernih dan empati,” katanya. Melalui tanda-tanda itu selanjutnya adalah melakukan riset lebih dalam.

Pinasthika on Talks  yang dipandu oleh Chairman Pinasthika, Affi Aditya ini merupakan acara yang diselenggarakan  P3I Pengda DIY didukung Kedaulatan Rakyat. Acara ini juga mengumpulkan donasi untuk penanganan tanggap covid-19 di Yogyakarta. (Apw)

 

 

BERITA REKOMENDASI