Gunakan Dua Metode, Sensus Penduduk 2020 Sasar Kaum Milenial

YOGYA, KRJOGJA.com – Badan Pusat Statisik (BPS) secara nasional akan kembali menggulirkan sensus penduduk. Pada tahun ini kaum milenial ikut disasar seiring dua metode yang digunakan yakni sistem online dan sistem konvensional.

Kepala BPS Kota Yogya Harjana, menuturkan sensus penduduk merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh BPS. “Tahun ini merupakan yang ketujuh. Pertama kali digelar pada tahun 1961 dan terakhir tahun 2010,” jelasnya dalam jumpa media, Selasa (11/2/2020).

Dalam metode online, penduduk dapat mengakses laman sensus.bps.go.id mulai 16 Februari hingga 31 Maret 2020. Sedangkan melalui metode konvensional, penduduk akan didatangi petugas untuk diwawancarai seperti metode tahun-tahun sebelumnya. Penduduk yang akan didatangi tersebut hanya yang belum mengakses sistem online.

Harjana menambahkan, pada tahun ini pihaknya juga akan menggunakan basis data milik Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Sehingga data yang digunakan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK). “Ke depan tidak ada lagi perbedaan data antara BPS dengan Dirjen Dukcapil,” imbuhnya.

Kasie Statistik Sosial BPS Kota Yogya Chandra Wahyu Yuniar, menjelaskan data yang akan disensus hanya meliputi status keberadaan penduduk, karakteristik perumahan tempat tinggal sekitar penduduk, dan data kependudukan. Khusus data kependudukan menyangkut nama, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, status pekerjaan dan lainnya.

Menurutnya, metode online yang baru digunakan untuk sensus penduduk tahun ini tidak sebatas bagi kaum milenial. Warga yang memiliki tingkat aktivitas tinggi dan kerap tidak berada di tempat tinggal juga memiliki kesempatan untuk memperbarui data kependudukannya. “Sering kami jumpai, saat petugas mendatangi rumah warga namun sulit ditemui. Semoga dengan metode online bisa semakin memudahkan,” tandasnya.

Pihaknya optimis penduduk Kota Yogya akan banyak yang memanfaatkan sistem online. Apalagi 88,14 persen penduduk sudah familiar dengan gadget dan 78,79 persen sudah mengakses internet. Meski demikian, BPS berharap penduduk memasukkan data dengan jujur dan bertanggung jawab. Hal ini karena hasil sensus sepenuhnya akan kembali ke penduduk dalam bentuk kebijakan dan pembangunan. Jika yang diisi tidak benar, maka pembangunan bisa tidak tepat sasaran.(Dhi)

BERITA REKOMENDASI