16 Kapanewon di Gunungkidul Krisis Air Bersih

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Sudah sejak bulan Juni 2021 lalu, Pemkab Gunungkidul menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan untuk 16 kapanewon dari sebanyak 18 kapanewon yang ada Kabupaten Gunungkidul. Tahun ini diprediksi hanya ada dua kapanewon yang terbebas dari kekeringan. Ke dua kapanewon tersebut yakni Playen dan Wonosari.

“Sudah ada sepuluh kapanewon yang mengajukan bantuan air bersih yaitu, Panggang, Semin, Saptosari, Wonosari, Rongkop, Tepus, Girisubo, Tanjungsari, Patuk, Paliyan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki MSi.

Penetapan status siaga darurat bencana kekeringan yang dilakukan lebih awal dibanding tahun sebelumnya karena pada bulan Juni lalu sudah tidak terjadi hujan. Sehingga bak penampung air hujan milik warga sudah kering. Meskipun pada bulan juli lalu beberapa wilayah diguyur hujan, selain tidak mencukupi kualitas airnya juga tidak baik digunakan, sehingga droping air jalan terus.

Jika nantinya dampak kekeringan semakin meluas, status tersebut dapat dinaikkan sewaktu-waktu dan anggaran untuk menanggulangi kekeringan dapat mengambil dari anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. “Dari sebanyak 16 kapanewon yang sudah dilakukan droping air 10 kapanewon,” ujarnya.

Edy Basuki menegaskan, selain menetapkan status terkini bencana kekeringan, pihaknya juga melakukan pendataan wilayah-wilayah yang mengalami krisis air. Upaya mitigasi juga tetap dilakukan agar dapat memetakan dan mengantisipasi dampak kekeringan agar tidak meluas.

Berdasarkan data yang telah dianalisis oleh BPBD, sebanyak 16 Kapanewon diprediksi akan terdampak kekeringan. Sedangkan 2 kapanewon lainnya, yaitu Playen dan Karangmojo diperkirakan akan terbebas dari krisis air.

Hingga saat ini pihaknya mendata sudah 99.559 warga yang terkena dampak kekeringan. BPBD Gunungkidul sendiri sejauh ini telah menyalurkan sebanyak 847 tangki bantuan air kepada masyarakat.

Panewu Tanjungsari, Rakhmadian mengungkapkan jika pihaknya telah menyiapkan anggaran senilai Rp. 54,6 Juta untuk droping air ke warganya. Meskipun demikian, pihaknya tetap meminta bantuan ke BPBD Gunungkidul mengingat anggaran yang dimiliki sangat terbatas dan tidak bisa mengcover seluruh wilayah terdampak kekeringan di Kapanewon Tanjungsari.

Meskipun ada anggaran sendiri, pihaknya tetap minta bantuan ke BPBD Gunungkidul. “Kalau hanya mengandalkan anggaran ini, tidak bisa rata ke seluruh wilayah. Dari hasil pembagian wilayah BPBD mengcover bantuan di kalurahan Banjarejo, dan dari kapanewon di Kalurahan Kemadang, Hargosari, Kemiri, dan Ngestirejo,” terangnya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI