3 Bulan Terjadi 10 Kasus, 1 Orang Meninggal

WONOSARI, KRJOGJA.com – Penyakit leptospirosis masih menghantui warga Kabupaten Gunungkidul, khususnya kalangan petani. Hingga akhir Maret 2018 ini, Dinas Kesehatan mencatat terjadi 10 kasus leptospirosis yang disebabkan karena air kencing tikus.

Dari jumlah tersebut, satu orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Data ini menunjukkan bahwa wilayah Gunungkidul masih rentan terhadap serangan penyakit ini. 

”Tahun lalu terjadi 64 kasus leptospirosis dan terdapat belasan di antaranya meninggal,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Priyanta Madya, Jumat (30/3).

Sementara satu orang meninggal akibat leptospirosis merupakan seorang buruh tani asal Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari. Dari hasil analisis yang dilakukan diketahui korban meninggal akibat terjangkit virus tersebut dari wilayah Kabupaten Bantul. 

"Korban merupakan buruh panen padi. Waktu itu korban terakhir bekerja memanen padi di wilayah Bantul,” imbuhnya.

Adapun Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang ditularkan oleh hewan-hewan tertentu. Leptospira adalah organisme yang hidup di perairan air tawar, tanah basah, lumpur, dan tumbuh-tumbuhan. Bakteri ini dapat menyebar melalui banjir. Hewan pembawa
bakteri leptospira umumnya tidak memiliki tanda-tanda sedang mengidap leptospirosis karena bakteri ini dapat keluar melalui urine binatang. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI