37 Kasus DBD Terjadi di Gunungkidul

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul mencatat serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Januari 2019 menunjukkan terjadinya peningkatan. Terhitung sejak Januari 2019, tercatat kasus serangan DBD hampir dua kali lipat dibanding pada Januari 2018.

Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengatakan, jumlah kasus DBD pada awal tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2018 lalu. “Peningkatan terjadi hampir dua kali lipat pada awal tahun ini mencapai 37 kasus, padahal tahun lalu pada Januari 2018 hanya tercatat sebanyak 19 kasus,” katanya.

Terkait dengan peningkatan tersebut dia mengimbau masyarakat menjaga kesehatan di sekitar lingkungan rumah. Hal ini cukup penting dilakukan mengingat saat ini di Gunungkidul sendiri, meski tak terlalu parah, namun sudah menunjukkan tren peningkatan.

Belajar dari kasus DBD yang terjadi di wilayah lain, pihak Dinkes mulai melakukan antisipasi pencegahan. Salah satunya adalah mengupayakan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) setiap rumah satu orang. “Kita juga mendorong masyarakat untuk menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti lavender dan serai, karena tumbuhan tersebut tidak disukai nyamuk,” imbuh.

Melalui puskesmas di masing-masing kecamatan dengan membentuk jumantik tiap satu rumah satu petugas diharapkan penyebaran penyakit DBD bisa dicegah. Jika jumlah jentikjentik sudah melebihi ambang batas maka akan dilakukan fogging (pengasapan).

Fogging tidak bisa dilakukan asal-asalan, harus melalui kajian terlebih dahulu. Terdapat beberapa faktor pemicu. Salah satunya ialah curah hujan, sebaran kasus di tempat lain (luar wilayah) yang meningkat berpengaruh terhadap jumlah penderita DBD di Gunungkidul.

“Selain faktor itu juga perilaku masyarakat dalam melakukan PSN masih kurang. Gerakan PSN harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit DBD,” terangnya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI