46 Desa di Gunungkidul Rawan Bencana Longsor

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Sebanyak 46 desa di Kabupaten Gunungkidul berdasarkan hasil pemetaan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dinyatakan sebagai desa rawan longsor. Ke-46 desa tersebut berada di enam kecamatan Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin dan Ponjong. Banyaknya medan yang berbukit dan dijadikan pemukiman menjadikan kawasan hunian tersebut rawan terjadi longsor ketika intensitas curah hujannya tinggi.

”Masyarakat di wilayah rawan bencana longsor sudah kita imbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika terjadi hujan dalam durasi lama agar melakukan antisipasi bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edi Basuki MSi.

Baca juga :

Hari Juang TNI AD, Korem 072/Pamungkas – ACT DIY Bersinergi
Realisasi Penyaluran Kredit Tembus Rp 936 M

Selain melakukan atisipasi berupa imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat, pemetaan kawasan rawan bencana tidak hanya menyangkut longsor. Tetapi juga rawan banjir, terutama yang bermukim di sepanjang bantaran sungai, maupun bencana tsunami bagi masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang pantai selatan dari Kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus hingga Girisubo.

Enam kecamatan tersebut memiliki kawasan hunian di sepanjang pantai dari Kecamatan Purwosari higga Girisubo sepanjang lebih dari 80 kilometer. “Pembekalan tentang mitigasi dan pengurangan risiko bencana sudah kami lakukan dan saat ini sudah ada 56 desa kita nyatakan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana),” ucapnya.

Selain melakukan sosialisasi dan pembekalan terhadap masyarakat di kawasan rawan bencana, juga melakukan pemasangan sarana peringatan dini Early Warning System (EWS). Untuk yang rusak sudah diganti dan saat ini sudah ada 30 lebih EWS yang terpsang di wilayah rawan longsor, Untuk laporan tanah longsor sejak seminggu ini sudah ada 2 kasus di Patuk dan Nglipar.

Sementara untuk peta kerawanan banjir di Kecamatan Patuk, Wonosari, Ngawen hingga Ponjong. Pemukiman di kawasan bantaran sungai Kali Oya maupun di Kota Wonosari di jalur Kali Besole perlu untuk diwaspadai. ”Bantaran Sungai Oya serta Kali Besole perlu diwaspadai. Terlebih jika terjadi hujan deras dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya.

Sementara untuk daerah rawan tsunami, sejak dua tahun terakhir ini dilakukan sosialisasi bahkan dalam setiap kegiatan mengantisipasi bencana tersebut warga dilibatkan dalam melakukan simulasi. Upaya antisipasi dengan pembekalan dan sosialisasi mengatasi bencana tsunami dilakukan bagi masyarakat yang tinggal dan berdomisili maupun melakukan aktivitas di kawasan pentai selatan dari Kecamatan Purwosari hingga Girisubo. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI