Acara Syawalan Masih Terjaga Mesti di Tengah Kota

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Tradisi syawalan untuk melengkapi peringatan hari raya Idul Fitri masih terjaga di Kabupaten Gunungkidul. Salah satunya menjadi agenda rutin yang digelar warga Perumahan Pesona Handayani Indah (PHI) Wonosari.

Disebut syawalan karena pertemuan tersebut utamanya dilaksanakan di bulan Syawal, setelah bulan Ramadhan atau bulan ke-10 dalam kalender tahun Hijriyah. Kegiatan biasanya dilaksanakan setelah lebaran atau H+ 1 sampai dengan 7 Lebaran.

“Tradisi Syawalan ini sudah merakyat dan meng-Indonesia. Artinya kegiatan ini dikenal dan dilaksanakan di tingkat rakyat jelata sampai ke istana negara dan jadi salah satu kegiatan khas Indonesia,” kata Ketua Blok PHI, Ketut Agus S di Wonosari, Minggu (08/05/2022).

Kegiatan syawalan di Gunungkidul biasanya dilaksanakan dengan ikrar. Dimulai dari salah satu pemimpin ikrar dan diikuti oleh masyarakat atau kelompok yang hadir. Mereka berikrar untuk saling maaf memafaakan saat menjalani kehidupan bermasyrakat.

“Dengan harapan bisa saling memaafkan satu sama lain dan menghalalkan segala kesalahan yang mungkin telah diperbuatnya untuk kemudian merecanakan kehidupan lebih baik pada masa mendatang,” terang Ketut.

Pihaknya juga mengatakan, kegiatan ini masih terjaga di Kabupaten Gunungkidul. Meski letak PHI yang berada di tengah kota. Selain untuk menjalin silaturahmi acara ini diharapkan dapat memupuk rasa kekeluargaan, rasa peduli dan guyup rukun di tengah masyarakat. “Kegiatan ini positif dan akan selalu kami laksanakan,” paparnya.

Salah satu warga, Bowo Laksono mengatakan acara syawalan khususnya di tengah perumahan wajib dipertahankan. Hal ini untuk mempererat tali silaturuhmi antar warga mengingat kesibukan warga yang padat.

“Banyak penghuni perumahan yang sibuk dan sangat jarang bisa bertemu. Momentum ini sangat pas untuk meningkatkan kerukunan ditengah masyrakat,” katanya. (*)

BERITA REKOMENDASI