Akhirussanah SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari ‘Ngunduh Wohing Pakarti’

Editor: KRjogja/Gus

WONOSARI (KRJOGJA.com) – SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari mengadakan akhirussanah (wisuda) siswa kelas IX di Kampus Terpadu (KB-TK-SD-SMP) Al Azhar Wonosari, Sabtu (19/6/2021). Tahun ini adalah wisuda lulusan angkatan ke-2. Adapun akhirussanah mengangkat tema ‘Ngunduh Wohing Pakarti’.

Plt Kepala Sekolah SMP Al Azhar 38 Wonosari, Fatul Mujib mengatakan, acara dilakukan secara terbatas dihadiri kurang lebih 70 tamu undangan untuk mencegah penyebaran Covid-19, namun tidak kehilangan esensi dan kemeriahnnya. Tamu undangan antara lain pengurus Yasram, Wakabid di BPPH Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta, jajaran kedinasan, Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, pengawas, lurah, Wali Murid dan wisudawan-wisudawati.

Akhirussanah tersebut juga berhasil menggelar pementasan wayang kontemporer yang dimainkan oleh Ki Dalang Qohhar Dwi Hatmoko. Selain itu juga diisi dengan pementasan geguritan, penampilan guru, dan pemberian penghargaan oleh siswa dan siswi berprestasi di bidang akademik, keolahragaan, IT, maupun keagamaan.

Suhartini, Wakil Kepala Bidang Akademik Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta berharap para wisudawan dan wisudawati ini menjadi anak-anak yang cerdas, berkarakter, dan pantang menyerah dalam menggapai cita-cita mereka. “Tetap cinta dan jaga nama baik Al Azhar,” katanya.

Fatul Mujib menjelaskan, ‘Ngunduh Wohing Pakarti’ sebagai tema yang diusung dalam akhirussanah angkatan ke-2 SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari adalah bentuk penghormatan, penghargaan, dan syukur atas kelulusan siswa-siswi dalam menempa ilmu di sekolah ini. Tema ‘Ngunduh Wohing Pakarti’ sendiri secara filosofis bermakna bahwa proses kehidupan bagi seorang pembelajar adalah apa yang dituai akan sebanding dengan apa yang diupayakan.

Demikian pula dengan para wisudawan dan wisudawati dalam menempuh salah satu fase dalam perjalanan hidup mereka di SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari. Sekolah ini adalah sebuah petak ladang ilmu bagi mereka. Setiap anak memiliki sebuah petak, satu persatu petak ladang itu mereka tanam sesuai apa yang mereka butuhkan dan kehendaki. Di ladang itu pula mereka berupaya untuk pantang menyerah dalam segala hal, tak cepat puas pada ilmu yang sudah didapat, tak pernah kering dalam berkreasi, tak pernah lelah dalam berdoa, dan tak pernah putus asa untuk menggapai prestasi.

“Sudah waktunya, woh (buah) di petak ladang masing-masing harus di-unduh (petik), dan kerja keras mereka harus dirayakan, lalu mulai menanam lagi sampai ngunduh lagi dengan tetap belajar pada kearifan lokal Gunungkidulan, dengan selalu think globally and act locally utamanya belajar dari kisah wayang dan lakon dewa Ruci ini” katanya. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI